Baik, inilah kisah dracin pendek yang Anda minta, dengan sentuhan misteri, elemen puitis, dan plot twist yang membingungkan: **Judul: Ratu...

Seru Sih Ini! Ratu Itu Memandang Laut, Berharap Gelombang Bisa Menghapus Masa Lalunya. Seru Sih Ini! Ratu Itu Memandang Laut, Berharap Gelombang Bisa Menghapus Masa Lalunya.

Baik, inilah kisah dracin pendek yang Anda minta, dengan sentuhan misteri, elemen puitis, dan plot twist yang membingungkan: **Judul: Ratu dan Ombak yang Menghapus Masa Lalu** Lorong istana itu **SUNYI**. Hembusan angin dingin merayapi sutra merah yang memudar, membisikkan kisah-kisah pengkhianatan dan ambisi yang terkubur di balik dinding batu. Di ujung lorong, berdiri seorang wanita. Ratu Lian, dengan gaun berkibar diterpa angin laut, memandang lautan yang bergejolak. Rambutnya, sehitam malam, tergerai menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Kabut pegunungan menjulang di kejauhan, menyembunyikan rahasia kelam – rahasia yang berusaha dilupakan sang ratu. Ia berharap gelombang laut yang menghantam karang dapat menghapus masa lalunya yang penuh darah dan pengorbanan. Tiba-tiba, sebuah suara memecah keheningan. "Anda berdiri di sini lagi, *Permaisuri*. Mengharapkan laut menjawab pertanyaan yang tak pernah Anda ajukan?" Ratu Lian berbalik. Sosok itu berdiri di ambang pintu. Pangeran Zhi, adik mendiang kaisar. Dahulu dianggap mati dalam pemberontakan sepuluh tahun lalu, kini ia berdiri tegak, sorot matanya tajam menusuk, penuh dengan _pengetahuan_. "Zhi," bisik Ratu Lian, suaranya serak. "Kau... bagaimana mungkin?" Pangeran Zhi tersenyum tipis. "Kematian adalah ilusi, *Permaisuri*. Sama seperti kepolosan Anda." Ia melangkah mendekat, aroma cendana dan darah yang samar menguar dari tubuhnya. "Saya kembali untuk mengambil apa yang menjadi hak saya. *TAHTA* yang direbut dengan darah dan air mata." "Aku tidak merebut apa pun," balas Ratu Lian, meski tangannya gemetar. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan untuk *BERTAHAN*." "Bertahan?" Pangeran Zhi tertawa hambar. "Anda yang memicu pemberontakan, bukan? Anda yang meracuni Kaisar, kakak saya? Semua demi *Kekuasaan*? Lalu, menyalahkan saya atas semua itu?" Ratu Lian terdiam. Angin laut berhembus semakin kencang, menerbangkan helaian rambut ke wajahnya. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya, menatap Pangeran Zhi dengan tatapan yang *dingin* dan _mematikan_. "Aku *memberimu* peran pahlawan yang difitnah, Zhi," bisiknya. "Agar kau bisa menghilang dan merencanakan _kebangkitanmu_. Bodohnya kau, berpikir aku tidak menyadarinya. Setiap langkahmu, setiap bisikanmu… *AKU TAHU*." Pangeran Zhi tertegun. Ekspresinya berubah dari marah menjadi _kengerian_. "Tidak mungkin…" Ratu Lian tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku butuh *kambing hitam*. Aku butuh _drama_. Dan kau, Zhi, adalah aktor yang sempurna. Orang-orang akan bersimpati padamu, dan mereka akan _membenci_ku. Tapi itu tidak penting. Karena pada akhirnya… **AKULAH** yang menang." Ia menatap lautan sekali lagi, ombak menghantam karang dengan ganas. "Kau pikir aku berdiri di sini untuk melupakan masa lalu? Bukan, Zhi. Aku berdiri di sini untuk *mengagumi* betapa indahnya aku menciptakan masa depan."
You Might Also Like: 19 Rekomendasi Sunscreen Mineral Lokal

Tangisan yang Menjadi Alunan Pembalasan Lampu-lampu lampion merah bergoyang pelan, menari mengikuti irama angin malam yang menusuk tulang....

Wajib Baca! Tangisan Yang Menjadi Alunan Pembalasan Wajib Baca! Tangisan Yang Menjadi Alunan Pembalasan

Tangisan yang Menjadi Alunan Pembalasan

Lampu-lampu lampion merah bergoyang pelan, menari mengikuti irama angin malam yang menusuk tulang. Di teras paviliun yang remang, seorang wanita, Lin Mei, duduk bersimpuh di depan guqin. Jemarinya yang lentik, dulu lincah memainkan melodi riang, kini gemetar menyentuh senar. Alunan yang keluar bagai ratapan panjang, sebuah tangisan yang dibungkam bertahun-tahun.

Lima tahun lalu, Lin Mei adalah tunangan terkasih Pangeran Wei. Mereka saling mencintai, mimpi tentang masa depan terjalin indah bagai sutra. Namun, di malam pernikahannya, segalanya runtuh. Ia mendapati Pangeran Wei bersama sahabatnya, Lan Yue, dalam pelukan mesra. Pengkhianatan itu menghancurkan hatinya berkeping-keping.

Orang-orang mengharapkannya marah, berteriak, menuntut keadilan. Namun Lin Mei memilih DIAM. Bukan karena ia lemah, tetapi karena rahasia besar terpatri dalam hatinya, sebuah beban yang tak bisa ia bagi. Ia tahu, jika ia membuka mulut, bukan hanya dirinya yang akan hancur, tapi seluruh kerajaan.

Ia membiarkan Pangeran Wei menikahi Lan Yue. Ia menarik diri dari kehidupan istana, memilih menghabiskan hari-harinya di paviliun terpencil, menenggelamkan diri dalam alunan guqin.


Bertahun-tahun berlalu. Pangeran Wei menjadi Kaisar yang kejam. Lan Yue, sebagai Permaisuri, menebar teror di istana. Rakyat menderita, negara berada di ambang kehancuran.

Lin Mei terus bermain guqin. Setiap malam, alunan yang keluar semakin dalam dan pedih. Beberapa orang menganggapnya gila, hidup dalam kesedihan masa lalu. Namun, ada satu orang yang memerhatikannya. Seorang kasim tua, pelayan setia mendiang Permaisuri terdahulu, sering menyelinap ke paviliun, mendengarkan alunan guqin Lin Mei dengan mata berkaca-kaca.

Suatu malam, kasim itu memberanikan diri mendekati Lin Mei. "Nona Lin," bisiknya, "Saya tahu Anda menyimpan rahasia. Saya tahu Anda bukan sekadar wanita yang patah hati."

Lin Mei terdiam. Ia menatap kasim itu dengan tatapan tajam.

"Permaisuri terdahulu, ibunda Pangeran Wei, meninggal bukan karena sakit. Ia diracun. Dan racun itu... berasal dari guqin yang sama yang Anda mainkan sekarang," bisik kasim itu, nyaris tak terdengar.

JEGERRR!!!

Rahasia itu terungkap. Guqin itu bukan sekadar alat musik. Ia adalah warisan dari keluarga Lin, sebuah keluarga pembunuh bayaran yang tersohor. Setiap senar menyimpan racun mematikan, yang hanya bisa aktif jika dimainkan dengan melodi tertentu. Lin Mei, sebagai pewaris terakhir, memiliki kemampuan untuk mengendalikan racun tersebut.

Lin Mei tahu bahwa Pangeran Wei telah membunuh ibunya sendiri demi tahta. Ia tahu bahwa Lan Yue adalah kaki tangannya. Ia memilih diam, karena ia tahu, takdir akan membalas mereka dengan caranya sendiri.

Dan memang, takdir berbalik arah.

Permaisuri Lan Yue, terobsesi dengan kecantikan abadi, diam-diam mempelajari cara menggunakan racun dari guqin. Ia ingin meracuni Kaisar Wei, merebut tahta untuk dirinya sendiri. Namun, ia salah perhitungan. Alunan yang ia mainkan justru mengaktifkan racun yang ditujukan untuknya sendiri.

Kaisar Wei, yang semakin lama semakin paranoid, mulai mencurigai semua orang, termasuk Permaisuri Lan Yue. Ia menjadi gila, melihat pengkhianat di mana-mana. Rakyat memberontak, istana runtuh.

Di tengah kekacauan, Lin Mei tetap duduk di paviliunnya, memainkan guqin. Alunan yang keluar bukan lagi tangisan, melainkan simfoni pembalasan. Ia tidak melakukan kekerasan. Ia hanya membiarkan takdir bekerja.

Pangeran Wei akhirnya tewas dalam pemberontakan. Lan Yue meregang nyawa karena racunnya sendiri. Kerajaan hancur.

Lin Mei menghilang, tanpa meninggalkan jejak.


Bertahun-tahun kemudian, di sebuah desa terpencil, seorang wanita tua duduk di depan guqin, memainkan melodi yang lirih namun penuh kedamaian. Di matanya, terpancar kebijaksanaan dan sedikit penyesalan.

"Apakah ini akhirnya?" bisiknya pada diri sendiri.

Dan alunan guqin itu terus berlanjut, meninggalkan sebuah tanya yang menggantung di udara: apakah pembalasan sepadan dengan harga yang harus dibayar?

You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Diserang Burung Cucak

Pedang yang Menutup Kisah Dunia Seratus tahun telah berlalu sejak Bai Lianhua, sang Dewi Pedang, mengkhianati kekasihnya, Jenderal Zhan, ...

Cerpen Keren: Pedang Yang Menutup Kisah Dunia Cerpen Keren: Pedang Yang Menutup Kisah Dunia

Pedang yang Menutup Kisah Dunia

Seratus tahun telah berlalu sejak Bai Lianhua, sang Dewi Pedang, mengkhianati kekasihnya, Jenderal Zhan, dan memilih untuk memusnahkan sekte iblis demi kedamaian dunia. Sebuah pengkhianatan yang dibayar mahal dengan nyawa keduanya, dan sebuah janji yang terucap di antara pedang dan darah: "Aku akan menemukanmu... di kehidupan selanjutnya."

Kini, di era yang berbeda, di bawah langit yang sama namun asing, Bai Lianhua terlahir kembali sebagai Lin Yue, seorang gadis yatim piatu dengan bakat terpendam dalam seni bela diri. Sementara Jenderal Zhan, bereinkarnasi menjadi seorang pangeran dingin bernama Zhan Yi, yang dihantui mimpi buruk tentang seorang wanita dengan pedang berlumuran darah.

Di tengah keramaian pasar malam, mata mereka bertemu. Sebuah kejutan kecil, namun cukup untuk mengguncang jiwa yang telah lama tertidur. Lin Yue merasakan getaran aneh, seolah ia pernah mendengar suara Zhan Yi sebelumnya, mungkin... dalam mimpi? Zhan Yi, di sisi lain, terpaku pada mata Lin Yue, mata yang menyimpan kesedihan abadi yang familier.

"Siapakah kau?" tanya Zhan Yi, suaranya serak.

Lin Yue hanya menatapnya, bunga plum putih yang diselipkan di rambutnya bergoyang tertiup angin. Bunga yang sama, yang dulu selalu ia berikan pada Jenderal Zhan.

Pertemuan mereka memicu serangkaian kejadian. Lin Yue, tanpa sadar, ditarik ke dalam intrik istana yang berbahaya, sementara Zhan Yi berjuang untuk memahami mimpi buruknya dan perasaan anehnya terhadap Lin Yue. Setiap pertemuan mereka terasa seperti deja vu, setiap sentuhan memicu kenangan samar tentang masa lalu yang kelam.

Lambat laun, potongan-potongan teka-teki mulai menyatu. Sebuah jimat giok yang ditemukan Lin Yue, sebuah lukisan kuno yang menyimpan potret Bai Lianhua, dan sebuah legenda tentang pedang iblis yang disegel oleh Dewi Pedang. Semuanya mengarah pada satu kebenaran yang mengerikan: Lin Yue adalah reinkarnasi Bai Lianhua, dan Zhan Yi adalah reinkarnasi Jenderal Zhan.

Dosa masa lalu mereka kembali menghantui. Ternyata, Bai Lianhua tidak sepenuhnya bersalah. Ia terpaksa mengkhianati Jenderal Zhan demi melindungi dunia dari ancaman yang lebih besar, sebuah konspirasi jahat yang melibatkan orang-orang terdekat mereka. Janji yang terucap seratus tahun lalu bukanlah janji cinta abadi, melainkan janji penebusan.

Kini, dengan pedang di tangan, Lin Yue menghadapi musuh yang sama, kekuatan jahat yang kembali bangkit untuk menaklukkan dunia. Zhan Yi, meskipun terluka oleh pengkhianatan masa lalu, memilih untuk berada di sisinya, bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk melindungi wanita yang dicintainya, sekali lagi.

Pertempuran terakhir terjadi di puncak gunung, di tempat di mana Bai Lianhua dan Jenderal Zhan mengakhiri hidup mereka. Lin Yue, dengan Pedang Pelangi di tangan, menghadapi dalang dari semua kekacauan ini. Namun, alih-alih membalas dendam dengan kemarahan, ia memilih jalan yang lebih sulit: KEHENINGAN dan PENGAMPUNAN.

Ia mengalahkan musuhnya bukan dengan membunuhnya, melainkan dengan membongkar kebencian dan keserakahan yang menggerogoti jiwanya. Ia memilih untuk mengakhiri lingkaran kekerasan, untuk memberi kesempatan pada dunia untuk memulai babak baru.

Setelah pertempuran usai, Lin Yue dan Zhan Yi berdiri berdua di bawah langit yang berangsur cerah. Tatapan mereka bertemu, dipenuhi dengan kesedihan dan penerimaan.

"Aku... memaafkanmu," bisik Zhan Yi, suaranya penuh emosi.

Lin Yue tersenyum tipis. "Itu tidak perlu. Kita berdua adalah korban dari takdir."

Mereka berbalik, meninggalkan gunung dan kisah tragis mereka. Namun, sebelum benar-benar menghilang, Lin Yue berbisik, nyaris tak terdengar, "Kita akan bertemu lagi…,"

"… di bawah pohon bunga persik, saat musim semi tiba…"

You Might Also Like: Fractions Decimals And Percentages

Cinta yang Menghapus Nama di Silsilah Embun pagi menggantung di kelopak sakura, persis air mata yang enggan jatuh. Di balik gerbang megah ...

Seru Sih Ini! Cinta Yang Menghapus Nama Di Silsilah Seru Sih Ini! Cinta Yang Menghapus Nama Di Silsilah

Cinta yang Menghapus Nama di Silsilah

Embun pagi menggantung di kelopak sakura, persis air mata yang enggan jatuh. Di balik gerbang megah kediaman Li, Lin Yi berdiri, tegak namun rapuh. Ia hidup dalam kebohongan yang dirajut indah oleh kakeknya, Li Wei. Kebohongan bahwa ia adalah cucu kesayangan, penerus tunggal kekayaan Li. Kebohongan yang memberinya tahta, namun merenggut jiwanya.

Di sisi lain kota, di antara gang sempit dan hiruk pikuk pasar, hidup seorang pemuda bernama Jiang Chen. Ia menyimpan dendam seumur hidup pada keluarga Li. Dendam atas kematian orang tuanya, dendam atas nama baik yang dicemarkan, dendam yang membara dan membutakan. Ia mencari kebenaran, sebuah kebenaran yang ia yakini akan menghancurkan dinasti Li.

Pertemuan mereka terjadi di bawah rembulan pucat, di sebuah galeri seni yang dipenuhi bayang-bayang. Lin Yi, dengan senyum yang menyembunyikan luka, dan Jiang Chen, dengan tatapan tajam yang menyimpan amarah. Mereka tertarik, tanpa menyadari bahwa takdir sedang memainkan permainan kejam.

"Lukisanmu... menggambarkan kesedihan yang mendalam," kata Lin Yi, suaranya selembut sutra.

"Kesedihan adalah guru terbaik," jawab Jiang Chen, matanya menelisik. "Ia mengajarkan kita KEBENARAN."

Cinta tumbuh di antara mereka, seperti anggrek liar yang mekar di bebatuan terjal. Lin Yi menemukan kedamaian dalam pelukan Jiang Chen, sebuah kedamaian yang ia tahu takkan pernah ia miliki di kediaman Li. Jiang Chen, perlahan, mulai meragukan dendamnya. Mungkinkah Lin Yi, si pewaris Li, tidak bersalah?

Namun, kebenaran ibarat pedang bermata dua. Semakin Jiang Chen mencari, semakin dekat ia pada rahasia kelam keluarga Li. Rahasia yang melibatkan kematian orang tuanya, rahasia tentang asal-usul Lin Yi yang sebenarnya.

Puncaknya terjadi saat perayaan ulang tahun Li Wei. Jiang Chen, dengan keberanian yang dipicu amarah dan cinta, membongkar semua kebohongan. Ia mengungkap bahwa Lin Yi bukanlah cucu kandung Li Wei, melainkan anak haram yang diangkat untuk meneruskan kekayaan. Ia mengungkap kejahatan Li Wei yang menyebabkan kematian orang tuanya.

Kediaman Li bergemuruh. Lin Yi, hancur dan terluka, menatap kakeknya dengan tatapan kosong. Kebohongan itu telah menghancurkan segalanya.

"Jadi, aku... bukan siapa-siapa?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.

Li Wei, dengan wajah memerah, mencoba menyangkal. Namun, bukti tak terbantahkan. Keluarga Li runtuh di hadapannya.

Lin Yi, dengan hati yang berkeping-keping, mengambil keputusan. Ia tahu, balas dendam bukanlah jawaban. Namun, keadilan harus ditegakkan. Ia menyerahkan bukti kejahatan Li Wei kepada pihak berwajib, lalu pergi meninggalkan kediaman itu, meninggalkan nama Li di belakangnya.

Jiang Chen menatap Lin Yi. Ia telah mendapatkan kebenaran yang ia cari, namun ia kehilangan cintanya.

"Kemana kamu akan pergi?" tanyanya, suaranya bergetar.

Lin Yi tersenyum tipis, senyum yang menyimpan perpisahan. "Aku akan mencari namaku sendiri. Nama yang tidak tertulis di silsilah keluarga Li."

Ia pergi, menghilang di balik kabut pagi, meninggalkan Jiang Chen dengan rasa bersalah yang tak terperi.

Satu tahun kemudian, di sebuah desa terpencil, Jiang Chen menemukan Lin Yi. Ia hidup sederhana, bahagia, dan memiliki nama baru. Namun, mata Lin Yi tidak lagi memancarkan cinta. Ia telah memaafkan, namun tidak melupakan. Dendam yang tenang, lebih menghancurkan dari amarah membara.

Apakah mereka akan menemukan jalan kembali satu sama lain?

You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Dengan

Bibir yang Membisikkan Kematian Rembulan pucat menyinari Paviliun Anggrek yang sunyi. Di dalamnya, Lin Mei duduk bersimpuh di depan guqin ...

Seru Sih Ini! Bibir Yang Membisikkan Kematian Seru Sih Ini! Bibir Yang Membisikkan Kematian

Bibir yang Membisikkan Kematian

Rembulan pucat menyinari Paviliun Anggrek yang sunyi. Di dalamnya, Lin Mei duduk bersimpuh di depan guqin kesayangannya. Jemarinya yang lentik menari di atas senar, menghasilkan melodi yang lirih, pedih... sepedih hatinya.

Tiga tahun lalu, ia adalah tunangan Pangeran Mahkota, masa depan terbentang indah bagaikan gulungan sutra yang baru dibuka. Lalu, badai menerjang. Selir Hua, wanita dengan senyum semanis madu namun beracun bak ular, menuduhnya berkhianat. Bukti palsu, saksi bayaran, semuanya terangkai rapi. Lin Mei dijatuhi hukuman pengasingan ke paviliun terpencil ini.

Ia memilih diam. Bukan karena lemah, oh bukan sama sekali. Ia menyimpan RAHASIA yang terlalu besar untuk diungkapkan. Rahasia yang bisa mengguncang fondasi kekaisaran. Rahasia tentang siapa sebenarnya Selir Hua, dan konspirasi yang dijalankannya.

Setiap malam, ia memainkan guqin. Melodi yang sama, berulang-ulang. Nada-nada itu bukan hanya sekadar musik, tapi KATA-KATA yang disandikan. Kata-kata yang hanya bisa dipahami oleh satu orang: Penasihat Agung, paman yang sangat ia percayai.

Waktu berlalu. Lin Mei menyaksikan dari kejauhan bagaimana Selir Hua merebut takhtanya, bagaimana Pangeran Mahkota dibutakan oleh pesonanya. Ia melihat kerajaan perlahan-lahan menuju kehancuran. Tapi ia tetap diam, terus memainkan guqinnya.

Misteri mulai menguat ketika satu per satu orang kepercayaan Selir Hua tewas. Kecelakaan aneh, penyakit misterius... seolah ada kekuatan tak terlihat yang membalas dendam. Lin Mei tahu, paman-nya sedang bekerja. Ia menjalankan rencana yang telah mereka susun bertahun-tahun lalu.

Suatu malam, Penasihat Agung datang ke Paviliun Anggrek. Wajahnya penuh luka, matanya berkilat penuh kemenangan. "Semuanya sudah selesai," bisiknya. "Selir Hua telah terbukti bersalah. Pangeran Mahkota akhirnya melihat kebenaran."

Lin Mei menatapnya, bibirnya bergetar. "Lalu, bagaimana dengan Pangeran Mahkota?"

"Ia memilih mengundurkan diri. Tidak pantas baginya memimpin kerajaan yang dibangun di atas kebohongan."

Lin Mei terkejut. Ia tidak menyangka Pangeran Mahkota akan SEMULIA itu.

Penasihat Agung melanjutkan, "Racun Selir Hua perlahan-lahan membunuhnya. Dan racun itu... berasal dari bunga teratai hitam yang hanya tumbuh di taman paviliun ini."

Lin Mei menatap taman di luar jendela. Bunga teratai hitam bermekaran dengan indahnya. Selama ini, ia merawat bunga-bunga itu, tanpa menyadari bahwa ia sedang menanam PEMBALASAN.

Pangeran Mahkota kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Selir Hua yang penuh penyesalan. Sebuah kematian tanpa kekerasan, namun mengiris jiwa. Takdir berbalik arah, dengan pahit namun indah.

Lin Mei kembali memainkan guqinnya. Kali ini, melodinya berbeda. Bukan lagi pedih, tapi TENANG. Semua rahasia telah terungkap. Kebenaran telah ditegakkan. Tugasnya telah selesai.

Lalu, ia memejamkan mata, dan di bibirnya terukir senyuman tipis, saat racun yang sama, racun dari bunga teratai hitam yang ia minum perlahan menjalar di nadinya, sebuah PENGORBANAN terakhir yang tak terelakkan.

Ia memilih kematian, karena hidup tanpa cinta, sama seperti melodi tanpa jiwa, dan tanpa jiwa, segalanya adalah hampa…

You Might Also Like: 62 Beast Film Fact Versus Fiction

Aku Menatap Langit yang Runtuh, dan Hanya Namamu yang Tersisa Langit Beijing abu-abu. Sama seperti hatiku. Seratus tahun… seratus tahun te...

FULL DRAMA! Aku Menatap Langit Yang Runtuh, Dan Hanya Namamu Tersisa FULL DRAMA! Aku Menatap Langit Yang Runtuh, Dan Hanya Namamu Tersisa

Aku Menatap Langit yang Runtuh, dan Hanya Namamu yang Tersisa

Langit Beijing abu-abu. Sama seperti hatiku. Seratus tahun… seratus tahun telah berlalu sejak dosa itu merenggutnya dariku. Seratus tahun sejak janji kita terucap di bawah pohon plum yang kini entah di mana.

Aku, Li Wei, seorang arsitek muda dengan obsesi aneh terhadap bangunan-bangunan kuno, selalu merasa ada sesuatu yang hilang. Seperti melodi yang terputus di tengah lagu. Kemudian, aku bertemu dengannya.

Zhang Yi. Pewaris konglomerat teknologi yang berwajah dingin namun matanya... matanya menyimpan badai yang kukenal. Sejak pandangan pertama, aku merasakan tarikan yang tak terbantahkan. Seperti akar pohon yang mencari tanah kelahirannya.

"Kau…," bisikku, tercekat. Suaraku terdengar asing, bahkan bagi diriku sendiri.

"Kita belum pernah bertemu, Nona Li," jawabnya, tapi nada bicaranya menyimpan keraguan.

Di setiap pertemuan, aku melihat kilasan masa lalu. Bunga kamelia putih yang selalu ia sematkan di rambutku. Suara suling yang memanggilku di tengah malam. Dan bayangan pembantaian, api yang membubung, serta darah yang mengalir di taman kekaisaran.

Mimpi-mimpiku dipenuhi fragmen kehidupan lampau. Aku adalah Mei, seorang dayang yang jatuh cinta pada Pangeran Ying, Zhang Yi. Cinta terlarang kami membangkitkan murka permaisuri yang haus kekuasaan. Ia menuduhku berkhianat dan menjebak Pangeran dengan pengkhianatan. Di altar eksekusi, Pangeran Ying bersumpah akan menemukanku di kehidupan selanjutnya, sebelum kemudian pedang algojo merenggut nyawanya. Aku menyaksikan semuanya, tak berdaya.

Zhang Yi mulai merasakan hal yang sama. Ia mencari tahu tentang sejarah dinasti itu, tenggelam dalam legenda Pangeran Ying dan dayangnya yang malang. Ia menemukan lukisan Mei, dan wajahnya… identik denganku.

Seiring waktu, misteri terkuak. Permaisuri, yang kini bereinkarnasi sebagai CEO perusahaan pesaing Zhang Yi, ternyata masih menyimpan dendam yang sama. Ia berusaha menghancurkan Zhang Yi, menggunakan cara licik dan keji.

"Dia… menginginkan kehancuranmu, Zhang Yi," ujarku, dengan suara bergetar.

"Aku tahu, Mei. Tapi aku tidak akan membiarkannya," jawabnya, matanya membara.

Namun, balas dendam bukanlah jalan kami. Aku mengerti, dendam hanya melanggengkan siklus penderitaan. Aku memilih jalan yang lebih sunyi. Aku mengungkap kebenaran tentang kejahatan permaisuri di masa lalu dan masa kini, bukan dengan teriakan marah, tapi dengan bukti yang tak terbantahkan.

Kebenaran itu menusuknya lebih dalam daripada pedang. Ia kehilangan segalanya – kekuasaan, reputasi, dan akhirnya, kewarasannya.

Zhang Yi meraih tanganku. "Terima kasih, Mei. Kau telah membebaskanku."

Aku menatapnya. Tidak ada amarah di hatiku. Hanya kesedihan yang mendalam. Pengampunan adalah balas dendam terindah.

Aku berbalik, meninggalkan Zhang Yi di tengah kerumunan wartawan. Aku melangkah menjauh, menuju senja yang menelan cakrawala.

Sebelum benar-benar menghilang, aku berbisik, hampir tak terdengar, "Di bawah pohon plum… aku menunggumu lagi…"

You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Penghasilan

Embun pagi merayapi kelopak mawar di paviliun yang tenang. Di sana, Lin Mei berdiri, gaun sutranya berkilauan senada dengan sungai di bawah...

Wajib Baca! Langit Yang Tak Bisa Lupa Wajib Baca! Langit Yang Tak Bisa Lupa

Embun pagi merayapi kelopak mawar di paviliun yang tenang. Di sana, Lin Mei berdiri, gaun sutranya berkilauan senada dengan sungai di bawahnya. Namun, matanya, sekelam malam tanpa bintang. Ia, sang pewaris tunggal Dinasti Lin yang Agung, hidup dalam kepalsuan. Sebuah KEBOHONGAN yang dipahat di hatinya sejak ia masih seorang gadis kecil.

Di sisi lain, berdiri Xiao Feng, seorang cendekiawan muda dengan mata setajam elang. Ia kembali ke Dinasti Lin bukan untuk kehormatan, bukan pula untuk kekayaan, melainkan untuk KEBENARAN. Kebenaran tentang kematian keluarganya, yang ia yakini disembunyikan oleh Dinasti Lin, yang ia yakini dilindungi oleh senyum manis Lin Mei.

"Xiao Feng, angin pagi ini mengingatkanku pada masa kecil kita," sapa Lin Mei, suaranya semanis madu.

"Ya, Putri Lin. Angin juga mengingatkanku pada janji yang tak ditepati," balas Xiao Feng, tatapannya menusuk seperti jarum.

Permainan dimulai.

Lin Mei berusaha menutupi kebenaran dengan jaring-jaring kepalsuan yang ia rajut dengan lihai. Ia menggunakan pesona, kekuasaan, bahkan air mata. Namun, Xiao Feng tak gentar. Ia menelusuri setiap lorong istana, setiap bisikan angin, setiap remah sejarah yang tersembunyi. Ia seperti laron yang sabar menggerogoti kayu lapuk, sedikit demi sedikit, hingga fondasi kebohongan itu mulai retak.

Konflik demi konflik meletus. Pertemuan mereka selalu dipenuhi dengan kata-kata manis yang menyimpan racun. Lin Mei berusaha menjerat Xiao Feng dengan cintanya yang semu, sementara Xiao Feng menggali semakin dalam, menemukan bukti-bukti yang MENGHANCURKAN.

Semakin dekat Xiao Feng dengan kebenaran, semakin terdesak pula Lin Mei. Ia mulai melakukan kesalahan. Kepanikan membuatnya kehilangan kendali. Pada suatu malam berbadai, Xiao Feng menemukan surat wasiat yang disembunyikan di balik lukisan kaisar. Surat itu berisi pengakuan dosa mendiang kaisar, ayah Lin Mei. Ia mengakui telah memerintahkan pembantaian keluarga Xiao demi melanggengkan kekuasaan.

DUAR! Kebenaran menghantam Xiao Feng seperti petir. Hatinya hancur berkeping-keping.

Keesokan harinya, Xiao Feng menghadap Lin Mei di taman bunga. Ia membawa surat wasiat itu.

"Putri Lin, ini…" Xiao Feng menunjuk surat wasiat itu. "Kebenaran yang selama ini kau sembunyikan."

Lin Mei terdiam. Air matanya mengalir deras. Ia tak membantah. Ia tak berbohong lagi.

"Xiao Feng… aku tahu… aku tahu semuanya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa," bisiknya. "Aku adalah sandera dari dinasti ini."

Xiao Feng menatap Lin Mei dengan dingin. Ia tak percaya lagi dengan air mata buaya. Ia telah memutuskan.

"Balas dendam," gumamnya. "Balas dendam akan datang, Putri Lin. Bukan dengan pedang, bukan dengan darah. Tapi dengan KEHANCURAN yang perlahan dan menyakitkan."

Xiao Feng meninggalkan Dinasti Lin tanpa menoleh ke belakang. Ia menghilang bagai ditelan bumi. Namun, sebelum kepergiannya, ia menyebarkan salinan surat wasiat itu ke seluruh penjuru negeri.

Lin Mei tetap menjadi Putri Lin. Ia tetap memimpin Dinasti Lin. Namun, kekuasaannya rapuh. Rakyatnya mulai meragukan legitimasi dinasti mereka. Ekonomi runtuh. Pemberontakan terjadi di mana-mana. Lin Mei menyaksikan dinasti yang dibangun ayahnya hancur lebur di depan matanya.

Inilah balas dendam Xiao Feng. Sebuah kehancuran yang lebih dahsyat daripada kematian. Sebuah hukuman yang lebih berat daripada siksaan.

Bertahun-tahun kemudian, Lin Mei ditemukan meninggal dunia di paviliun yang sama tempat ia pertama kali bertemu Xiao Feng. Di tangannya tergenggam sehelai benang sutra merah, terikat pada kelopak mawar putih.

Lin Mei tersenyum. Senyum yang menyimpan PERPISAHAN.

Apakah Xiao Feng merasakan kehancuran yang sama seperti Lin Mei?

You Might Also Like: Full Drama Pelukan Yang Mengikat Dendam