Bibir yang Membisikkan Kematian
Rembulan pucat menyinari Paviliun Anggrek yang sunyi. Di dalamnya, Lin Mei duduk bersimpuh di depan guqin kesayangannya. Jemarinya yang lentik menari di atas senar, menghasilkan melodi yang lirih, pedih... sepedih hatinya.
Tiga tahun lalu, ia adalah tunangan Pangeran Mahkota, masa depan terbentang indah bagaikan gulungan sutra yang baru dibuka. Lalu, badai menerjang. Selir Hua, wanita dengan senyum semanis madu namun beracun bak ular, menuduhnya berkhianat. Bukti palsu, saksi bayaran, semuanya terangkai rapi. Lin Mei dijatuhi hukuman pengasingan ke paviliun terpencil ini.
Ia memilih diam. Bukan karena lemah, oh bukan sama sekali. Ia menyimpan RAHASIA yang terlalu besar untuk diungkapkan. Rahasia yang bisa mengguncang fondasi kekaisaran. Rahasia tentang siapa sebenarnya Selir Hua, dan konspirasi yang dijalankannya.
Setiap malam, ia memainkan guqin. Melodi yang sama, berulang-ulang. Nada-nada itu bukan hanya sekadar musik, tapi KATA-KATA yang disandikan. Kata-kata yang hanya bisa dipahami oleh satu orang: Penasihat Agung, paman yang sangat ia percayai.
Waktu berlalu. Lin Mei menyaksikan dari kejauhan bagaimana Selir Hua merebut takhtanya, bagaimana Pangeran Mahkota dibutakan oleh pesonanya. Ia melihat kerajaan perlahan-lahan menuju kehancuran. Tapi ia tetap diam, terus memainkan guqinnya.
Misteri mulai menguat ketika satu per satu orang kepercayaan Selir Hua tewas. Kecelakaan aneh, penyakit misterius... seolah ada kekuatan tak terlihat yang membalas dendam. Lin Mei tahu, paman-nya sedang bekerja. Ia menjalankan rencana yang telah mereka susun bertahun-tahun lalu.
Suatu malam, Penasihat Agung datang ke Paviliun Anggrek. Wajahnya penuh luka, matanya berkilat penuh kemenangan. "Semuanya sudah selesai," bisiknya. "Selir Hua telah terbukti bersalah. Pangeran Mahkota akhirnya melihat kebenaran."
Lin Mei menatapnya, bibirnya bergetar. "Lalu, bagaimana dengan Pangeran Mahkota?"
"Ia memilih mengundurkan diri. Tidak pantas baginya memimpin kerajaan yang dibangun di atas kebohongan."
Lin Mei terkejut. Ia tidak menyangka Pangeran Mahkota akan SEMULIA itu.
Penasihat Agung melanjutkan, "Racun Selir Hua perlahan-lahan membunuhnya. Dan racun itu... berasal dari bunga teratai hitam yang hanya tumbuh di taman paviliun ini."
Lin Mei menatap taman di luar jendela. Bunga teratai hitam bermekaran dengan indahnya. Selama ini, ia merawat bunga-bunga itu, tanpa menyadari bahwa ia sedang menanam PEMBALASAN.
Pangeran Mahkota kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Selir Hua yang penuh penyesalan. Sebuah kematian tanpa kekerasan, namun mengiris jiwa. Takdir berbalik arah, dengan pahit namun indah.
Lin Mei kembali memainkan guqinnya. Kali ini, melodinya berbeda. Bukan lagi pedih, tapi TENANG. Semua rahasia telah terungkap. Kebenaran telah ditegakkan. Tugasnya telah selesai.
Lalu, ia memejamkan mata, dan di bibirnya terukir senyuman tipis, saat racun yang sama, racun dari bunga teratai hitam yang ia minum perlahan menjalar di nadinya, sebuah PENGORBANAN terakhir yang tak terelakkan.
Ia memilih kematian, karena hidup tanpa cinta, sama seperti melodi tanpa jiwa, dan tanpa jiwa, segalanya adalah hampa…
You Might Also Like: 62 Beast Film Fact Versus Fiction
0 Comments: