Angin Musim Gugur di Jembatan Sungai Yangzi
Lampu-lampu kota berkelap-kelip, memantul di permukaan Sungai Yangzi yang tenang. Gaun sutra merah marunku menari lembut mengikuti irama angin. Aku berdiri di sini, di jembatan yang sama, tempat ia pertama kali menyatakan cintanya padaku, di bawah langit bertabur bintang yang katanya menjadi saksi bisu janji abadi kami.
Lima tahun. Lima tahun aku mencintainya, memberikan seluruh hatiku, seluruh hidupku. Aku adalah lukisan terindahnya, katanya. Inspirasinya. Muse-nya.
Lalu, aku menemukan buku puisi itu.
"Senandung Senja" – sebuah antologi yang mendadak viral di kalangan elit Shanghai. Pujangga misterius dengan nama samaran "Awan Kelabu" berhasil membuat para wanita terbuai dengan kata-katanya yang romantis, puitis, dan...familiar.
Di sanalah aku menemukannya. Puisi-puisi tentang mata seindah zamrud, tentang rambut yang menyerupai air terjun malam, tentang senyum yang mampu mencairkan gletser. Puisi-puisi tentang… aku.
Tapi bukan dengan namaku.
Ia menamai wanitanya "Bulan Purnama".
Bulan Purnama.
Senyumku tak bergetar. Elegansi adalah topengku, dan hari ini, topeng itu terpasang sempurna. Malam itu, di pesta dansa yang mewah, aku menghampirinya. Ia tersenyum, matanya berbinar. Senyum yang menipu.
"Ah, Li Mei! Kau terlihat sangat cantik," sapanya.
"Terima kasih, Zhang Wei. Kau juga terlihat...bergairah. Kudengar 'Senandung Senja' sangat sukses?"
Ia tertawa, bangga. "Kau tahu, Li Mei, aku selalu terinspirasi oleh keindahan. Dan kau, kau adalah keindahan itu sendiri."
Pelukan yang beracun. Tangannya melingkar di pinggangku, terlalu erat, terlalu posesif. Aku membiarkannya. Aku membiarkannya menikmati janji yang berubah jadi belati yang akan segera menusuknya.
"Aku juga terinspirasi, Zhang Wei," bisikku di telinganya. "Oleh kesetiaan, oleh kebenaran, oleh...kejujuran."
Malam itu, aku menggunakan koneksiku, kekuatanku. Aku adalah Li Mei, putri dari keluarga Li yang terhormat, pewaris kekayaan yang tak terhitung jumlahnya. Aku bisa menghancurkan mimpi-mimpinya dengan satu jentikan jari.
Aku tidak melakukannya.
Aku hanya memastikan bahwa semua orang tahu. Bahwa "Awan Kelabu" adalah Zhang Wei. Bahwa "Bulan Purnama" adalah… aku.
Keesokan harinya, skandal itu meledak. Masyarakat Shanghai yang gemar bergosip berpesta pora. Kariernya hancur. Reputasinya tercemar. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan ketidaksetiaannya di balik nama samaran.
Aku melihatnya sekali lagi, di bawah jembatan Sungai Yangzi. Matanya kosong, penuh penyesalan.
"Mengapa, Li Mei? Mengapa kau melakukan ini?"
Aku tersenyum. "Karena, Zhang Wei, kau membagikan puisiku kepada dunia, tanpa permisi. Tapi kau lupa, aku yang menulis akhir ceritanya."
Aku berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan ia dalam penyesalan abadi. Aku tidak mengambil nyawanya, tidak merusak tubuhnya. Aku hanya menghancurkan hatinya. Menghancurkan jiwanya.
Dan itu, adalah balas dendam yang terasa manis dan pahit sekaligus.
Karena aku tahu, jauh di lubuk hatiku, cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama...
You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama Bisnis
0 Comments: