Tangisan yang Menjadi Alunan Pembalasan
Lampu-lampu lampion merah bergoyang pelan, menari mengikuti irama angin malam yang menusuk tulang. Di teras paviliun yang remang, seorang wanita, Lin Mei, duduk bersimpuh di depan guqin. Jemarinya yang lentik, dulu lincah memainkan melodi riang, kini gemetar menyentuh senar. Alunan yang keluar bagai ratapan panjang, sebuah tangisan yang dibungkam bertahun-tahun.
Lima tahun lalu, Lin Mei adalah tunangan terkasih Pangeran Wei. Mereka saling mencintai, mimpi tentang masa depan terjalin indah bagai sutra. Namun, di malam pernikahannya, segalanya runtuh. Ia mendapati Pangeran Wei bersama sahabatnya, Lan Yue, dalam pelukan mesra. Pengkhianatan itu menghancurkan hatinya berkeping-keping.
Orang-orang mengharapkannya marah, berteriak, menuntut keadilan. Namun Lin Mei memilih DIAM. Bukan karena ia lemah, tetapi karena rahasia besar terpatri dalam hatinya, sebuah beban yang tak bisa ia bagi. Ia tahu, jika ia membuka mulut, bukan hanya dirinya yang akan hancur, tapi seluruh kerajaan.
Ia membiarkan Pangeran Wei menikahi Lan Yue. Ia menarik diri dari kehidupan istana, memilih menghabiskan hari-harinya di paviliun terpencil, menenggelamkan diri dalam alunan guqin.
Bertahun-tahun berlalu. Pangeran Wei menjadi Kaisar yang kejam. Lan Yue, sebagai Permaisuri, menebar teror di istana. Rakyat menderita, negara berada di ambang kehancuran.
Lin Mei terus bermain guqin. Setiap malam, alunan yang keluar semakin dalam dan pedih. Beberapa orang menganggapnya gila, hidup dalam kesedihan masa lalu. Namun, ada satu orang yang memerhatikannya. Seorang kasim tua, pelayan setia mendiang Permaisuri terdahulu, sering menyelinap ke paviliun, mendengarkan alunan guqin Lin Mei dengan mata berkaca-kaca.
Suatu malam, kasim itu memberanikan diri mendekati Lin Mei. "Nona Lin," bisiknya, "Saya tahu Anda menyimpan rahasia. Saya tahu Anda bukan sekadar wanita yang patah hati."
Lin Mei terdiam. Ia menatap kasim itu dengan tatapan tajam.
"Permaisuri terdahulu, ibunda Pangeran Wei, meninggal bukan karena sakit. Ia diracun. Dan racun itu... berasal dari guqin yang sama yang Anda mainkan sekarang," bisik kasim itu, nyaris tak terdengar.
JEGERRR!!!
Rahasia itu terungkap. Guqin itu bukan sekadar alat musik. Ia adalah warisan dari keluarga Lin, sebuah keluarga pembunuh bayaran yang tersohor. Setiap senar menyimpan racun mematikan, yang hanya bisa aktif jika dimainkan dengan melodi tertentu. Lin Mei, sebagai pewaris terakhir, memiliki kemampuan untuk mengendalikan racun tersebut.
Lin Mei tahu bahwa Pangeran Wei telah membunuh ibunya sendiri demi tahta. Ia tahu bahwa Lan Yue adalah kaki tangannya. Ia memilih diam, karena ia tahu, takdir akan membalas mereka dengan caranya sendiri.
Dan memang, takdir berbalik arah.
Permaisuri Lan Yue, terobsesi dengan kecantikan abadi, diam-diam mempelajari cara menggunakan racun dari guqin. Ia ingin meracuni Kaisar Wei, merebut tahta untuk dirinya sendiri. Namun, ia salah perhitungan. Alunan yang ia mainkan justru mengaktifkan racun yang ditujukan untuknya sendiri.
Kaisar Wei, yang semakin lama semakin paranoid, mulai mencurigai semua orang, termasuk Permaisuri Lan Yue. Ia menjadi gila, melihat pengkhianat di mana-mana. Rakyat memberontak, istana runtuh.
Di tengah kekacauan, Lin Mei tetap duduk di paviliunnya, memainkan guqin. Alunan yang keluar bukan lagi tangisan, melainkan simfoni pembalasan. Ia tidak melakukan kekerasan. Ia hanya membiarkan takdir bekerja.
Pangeran Wei akhirnya tewas dalam pemberontakan. Lan Yue meregang nyawa karena racunnya sendiri. Kerajaan hancur.
Lin Mei menghilang, tanpa meninggalkan jejak.
Bertahun-tahun kemudian, di sebuah desa terpencil, seorang wanita tua duduk di depan guqin, memainkan melodi yang lirih namun penuh kedamaian. Di matanya, terpancar kebijaksanaan dan sedikit penyesalan.
"Apakah ini akhirnya?" bisiknya pada diri sendiri.
Dan alunan guqin itu terus berlanjut, meninggalkan sebuah tanya yang menggantung di udara: apakah pembalasan sepadan dengan harga yang harus dibayar?
You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Diserang Burung Cucak
0 Comments: