Baik, inilah kisah dracin pendek yang Anda minta, dengan sentuhan misteri, elemen puitis, dan plot twist yang membingungkan: **Judul: Ratu...

Seru Sih Ini! Ratu Itu Memandang Laut, Berharap Gelombang Bisa Menghapus Masa Lalunya. Seru Sih Ini! Ratu Itu Memandang Laut, Berharap Gelombang Bisa Menghapus Masa Lalunya.

Seru Sih Ini! Ratu Itu Memandang Laut, Berharap Gelombang Bisa Menghapus Masa Lalunya.

Seru Sih Ini! Ratu Itu Memandang Laut, Berharap Gelombang Bisa Menghapus Masa Lalunya.

Baik, inilah kisah dracin pendek yang Anda minta, dengan sentuhan misteri, elemen puitis, dan plot twist yang membingungkan: **Judul: Ratu dan Ombak yang Menghapus Masa Lalu** Lorong istana itu **SUNYI**. Hembusan angin dingin merayapi sutra merah yang memudar, membisikkan kisah-kisah pengkhianatan dan ambisi yang terkubur di balik dinding batu. Di ujung lorong, berdiri seorang wanita. Ratu Lian, dengan gaun berkibar diterpa angin laut, memandang lautan yang bergejolak. Rambutnya, sehitam malam, tergerai menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Kabut pegunungan menjulang di kejauhan, menyembunyikan rahasia kelam – rahasia yang berusaha dilupakan sang ratu. Ia berharap gelombang laut yang menghantam karang dapat menghapus masa lalunya yang penuh darah dan pengorbanan. Tiba-tiba, sebuah suara memecah keheningan. "Anda berdiri di sini lagi, *Permaisuri*. Mengharapkan laut menjawab pertanyaan yang tak pernah Anda ajukan?" Ratu Lian berbalik. Sosok itu berdiri di ambang pintu. Pangeran Zhi, adik mendiang kaisar. Dahulu dianggap mati dalam pemberontakan sepuluh tahun lalu, kini ia berdiri tegak, sorot matanya tajam menusuk, penuh dengan _pengetahuan_. "Zhi," bisik Ratu Lian, suaranya serak. "Kau... bagaimana mungkin?" Pangeran Zhi tersenyum tipis. "Kematian adalah ilusi, *Permaisuri*. Sama seperti kepolosan Anda." Ia melangkah mendekat, aroma cendana dan darah yang samar menguar dari tubuhnya. "Saya kembali untuk mengambil apa yang menjadi hak saya. *TAHTA* yang direbut dengan darah dan air mata." "Aku tidak merebut apa pun," balas Ratu Lian, meski tangannya gemetar. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan untuk *BERTAHAN*." "Bertahan?" Pangeran Zhi tertawa hambar. "Anda yang memicu pemberontakan, bukan? Anda yang meracuni Kaisar, kakak saya? Semua demi *Kekuasaan*? Lalu, menyalahkan saya atas semua itu?" Ratu Lian terdiam. Angin laut berhembus semakin kencang, menerbangkan helaian rambut ke wajahnya. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya, menatap Pangeran Zhi dengan tatapan yang *dingin* dan _mematikan_. "Aku *memberimu* peran pahlawan yang difitnah, Zhi," bisiknya. "Agar kau bisa menghilang dan merencanakan _kebangkitanmu_. Bodohnya kau, berpikir aku tidak menyadarinya. Setiap langkahmu, setiap bisikanmu… *AKU TAHU*." Pangeran Zhi tertegun. Ekspresinya berubah dari marah menjadi _kengerian_. "Tidak mungkin…" Ratu Lian tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku butuh *kambing hitam*. Aku butuh _drama_. Dan kau, Zhi, adalah aktor yang sempurna. Orang-orang akan bersimpati padamu, dan mereka akan _membenci_ku. Tapi itu tidak penting. Karena pada akhirnya… **AKULAH** yang menang." Ia menatap lautan sekali lagi, ombak menghantam karang dengan ganas. "Kau pikir aku berdiri di sini untuk melupakan masa lalu? Bukan, Zhi. Aku berdiri di sini untuk *mengagumi* betapa indahnya aku menciptakan masa depan."
You Might Also Like: 19 Rekomendasi Sunscreen Mineral Lokal

0 Comments: