Baiklah, inilah kisah dracin penuh nuansa takdir berjudul 'Aku Adalah Data Yang Ia Simpan Dengan Nama "Jangan Dibuka"'. ...

Cerpen Seru: Aku Adalah Data Yang Ia Simpan Dengan Nama "Jangan Dibuka" Cerpen Seru: Aku Adalah Data Yang Ia Simpan Dengan Nama "Jangan Dibuka"

Cerpen Seru: Aku Adalah Data Yang Ia Simpan Dengan Nama "Jangan Dibuka"

Cerpen Seru: Aku Adalah Data Yang Ia Simpan Dengan Nama "Jangan Dibuka"

Baiklah, inilah kisah dracin penuh nuansa takdir berjudul 'Aku Adalah Data Yang Ia Simpan Dengan Nama "Jangan Dibuka"'. **Aku Adalah Data Yang Ia Simpan Dengan Nama "Jangan Dibuka"** Seratus tahun sudah berlalu sejak Ling Hua jatuh dari tebing batu giok, terkhianati oleh janji abadi yang kini terasa seperti duri berkarat di hati. Seratus tahun sejak Li Wei, pemuda berwajah bulan sabit dengan senyum memabukkan, mengkhianati cintanya demi ambisi kekuasaan. Seratus tahun. *Terlalu lama*, namun terasa seperti kemarin sore. Kini, aku terlahir kembali sebagai Lin Xi, seorang analis data di perusahaan teknologi raksasa bernama "Everlasting". IRONI. Setiap hari, aku berhadapan dengan lautan informasi, algoritma rumit, dan kode-kode yang tak berujung. Namun, ada satu *folder* yang selalu menarik perhatianku, sebuah anomali di antara data-data korporat. Namanya: ***"Jangan Dibuka"***. Instingku menjerit. Rasanya seperti mendengar bisikan familiar dari jauhnya cakrawala, sebuah melodi yang menyayat hati, sepotong ingatan yang terkubur dalam pusaran waktu. Aku tahu, jauh di lubuk hatiku, *dia* ada di sana. Suatu sore, hujan mengguyur kota Beijing dengan deras. Aku duduk di depan komputer, jari-jariku menari di atas *keyboard*, mencoba menahan diri untuk tidak melanggar batasan. Folder "Jangan Dibuka" berkedip-kedip seolah memanggilku. Akhirnya, aku menyerah. Kunci enkripsi retak di bawah tekanan rasa ingin tahu yang membara. Isinya hanya satu file: potret seorang pria. *LI WEI*. Wajah yang sama, namun dengan kerutan di sekitar mata yang mengkhianati beban seratus tahun. Di bawah foto itu, tertulis singkat: "Project Phoenix". Rasa dingin menjalar di tulang belakangku. Project Phoenix adalah proyek rahasia Everlasting, sebuah upaya untuk membangkitkan ingatan masa lalu melalui teknologi *neural network*. *DIA* adalah subjek percobaan. *DIA* mencari *AKU* melalui algoritma, melalui data. Sejak saat itu, aku mulai menyusun kepingan-kepingan ingatan. Bunga sakura yang mekar di musim semi, suara seruling bambu yang beresonansi di lembah pegunungan, tatapan mata yang menyimpan janji abadi, dan kemudian... darah yang membasahi jubah sutra putih. Aku ingat pengkhianatan itu. Bukan demi tahta atau kekayaan, tapi demi menyelamatkan klannya dari kehancuran. Li Wei memilih tugas, bukan cinta. Sebuah pilihan yang menghantuinya selama seratus tahun. Aku bertemu dengannya. Li Wei yang sekarang adalah CEO Everlasting, seorang pria dingin dan berwibawa yang hidup di bawah bayang-bayang masa lalu. Tatapannya kosong, namun sesekali, ada kilatan familiar yang membuat jantungku berdebar. "Lin Xi," sapanya suatu hari, suaranya rendah dan serak. "Ada sesuatu yang familiar tentang dirimu." Aku hanya tersenyum tipis. Pembalasanku bukan dengan amarah atau dendam. Aku akan membalasnya dengan keheningan. Dengan pengampunan yang menusuk jantungnya. Aku meninggalkan Everlasting. Aku menghapus semua data yang berhubungan dengan Project Phoenix. Aku membiarkannya hidup dengan penyesalan abadinya, dihantui oleh bayangan Ling Hua yang tak akan pernah bisa diraihnya. Di hari terakhirku, aku meninggalkan sebuah origami bangau di mejanya. Bangau putih, simbol cinta dan kesetiaan yang dilanggar. Saat aku melangkah keluar dari gedung Everlasting, aku mendengar bisikan angin yang membawa aroma bunga sakura. "… *Jangan lupakan aku, meski waktu telah memisahkan kita…*"
You Might Also Like: Discover Dld Seamless Way To Deliver

0 Comments: