Baiklah, ini dia, sebuah kisah puitis bergaya *dracin* klasik: **Ia Mencintaiku Dalam Mode Gelap** Di sebuah paviliun yang terbungkus kabut *pagi lavender*, aku melihatnya. Bukan di dunia nyata, tentu saja. Mungkin di antara halaman-halaman usang sebuah naskah kuno, atau di balik kanvas yang menyimpan *warna-warna impian*. Wajahnya adalah *bayangan rembulan*, senyumnya, _desahan angin_ di antara ranting sakura. Ia menatapku. Tatapan itu, seperti *sungai yang mengalir lambat menuju samudra kesunyian*, menghanyutkanku dalam arus yang tak bernama. Aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak tahu siapa aku di dunianya. Yang kutahu, hatiku berdebar seperti *sayap kupu-kupu* yang terperangkap di balik kaca. Ia mencintaiku dalam mode gelap. Cintanya adalah *lukisan tinta* di atas kain sutra malam, gelap namun penuh intrik. Ia memberiku *bunga-bunga abadi* yang mekar hanya dalam mimpi, *kata-kata rahasia* yang tertulis dengan air mata di atas daun-daun maple yang berguguran. Kami menari di bawah *hujan meteor* yang hanya disaksikan oleh jiwa-jiwa yang hilang. Kami berbagi rahasia yang lebih tua dari waktu, janji-janji yang terukir di jantung *batu giok* yang dingin. Namun, keraguan selalu menyelinap. Apakah semua ini nyata? Atau hanya *ilusi yang dipahat oleh kesepianku sendiri*? Apakah ia benar-benar ada, atau hanya *gema dari kerinduan yang tak terucapkan*? Suatu malam, di bawah *bulan purnama yang membakar*, ia membisikkan sebuah nama. Bukan namaku. Itu adalah nama seorang wanita lain. Seorang wanita yang hidup berabad-abad lalu. Seorang wanita yang *wajahnya terpampang di lukisan yang tergantung di loteng istana kuno*. Seorang wanita yang… **ADALAH AKU**. *Misteri terpecahkan*, tapi keindahannya kini menjadi racun yang membakar. Aku adalah *reinkarnasi* dari cinta yang tak pernah terselesaikan, *bayangan dari masa lalu yang terus menghantuinya*. Ia mencintaiKU… tapi ia juga mencintai *kenangan* tentang wanita yang pernah KUpahami. Dan kemudian, ia menghilang. Kembali ke *kabut pagi lavender*, meninggalkan aku sendirian di paviliun yang terasa asing. *Apakah ia pernah mencintaiku… atau hanya mencintai dirinya sendiri melalui diriku*… *Angin masih berbisik di antara ranting sakura, dan aku masih mendengar namanya, terukir di hati seperti bekas luka bakar yang tak pernah sembuh…*
You Might Also Like: Skincare Viral Di Tiktok Tersedia

0 Comments: