Baiklah, inilah kisah dracin berjudul 'Aku Terlahir Lagi Hanya Untuk Mengulang Kesalahan Yang Sama': **Judul: Aku Terlahir Lagi Hanya Untuk Mengulang Kesalahan Yang Sama** *Aula Emas Kembar Naga* berkilauan di bawah ratusan obor. Bayangan panjang menari-nari di dinding, seolah mengikuti setiap bisikan dan intrik yang memenuhi ruangan. Kaisar Xuan, dengan jubah naga keemasannya yang megah, duduk di singgasana. Tatapan matanya setajam belati mengamati para pejabat yang membungkuk hormat di hadapannya. Namun, hatinya hanya tertuju pada satu sosok: Permaisuri Lian, wanita yang berdiri anggun di sampingnya, bagaikan bunga teratai di tengah badai. Lian, dengan senyum manis yang selalu menghiasi bibirnya, menyimpan lautan rahasia di balik mata indahnya. Ia adalah kunci, sekaligus bidak dalam permainan takhta yang mematikan ini. Cintanya pada Xuan **ABADI**, namun kekuasaan membutakan segalanya. "Lian," bisik Xuan saat mereka berdua berada di Taman Persik pribadi mereka, jauh dari mata dan telinga yang mengintai. "Kaulah satu-satunya yang kupercaya." Lian membalas tatapannya. "Dan aku akan selalu setia padamu, Yang Mulia." Kata-kata itu bagaikan madu, namun terasa pahit di lidah Lian. *Kesetiaan*. Kata itu hanyalah topeng yang ia kenakan untuk bertahan hidup. Di kehidupan sebelumnya, Lian telah dibutakan oleh cinta Xuan. Ia rela menyerahkan segalanya demi pria itu, termasuk nyawanya sendiri. Namun, di detik-detik terakhirnya, ia menyaksikan pengkhianatan Xuan dengan mata kepalanya sendiri. Ia melihat Xuan menikahi wanita lain, wanita yang memiliki kekuatan dan pengaruh lebih besar darinya. *Sekarang*, ia terlahir kembali. Dengan ingatan yang utuh dan dendam yang membara. Lian tahu, untuk menjatuhkan Xuan, ia harus bermain dalam permainannya. Ia harus memanfaatkannya, memanfaatkan cintanya, dan menggunakan setiap kesempatan untuk meraih kekuasaan. *** Hari demi hari berlalu. Lian semakin lihai dalam memainkan perannya. Ia menyebarkan desas-desus, menabur benih perpecahan, dan menjalin aliansi rahasia. Ia menjadi *dalang* di balik layar, menggerakkan bidak-bidak di papan catur kekaisaran. Xuan, yang dibutakan oleh cintanya pada Lian, tidak menyadari bahwa ia sedang dimanfaatkan. Ia percaya sepenuhnya pada setiap kata yang diucapkan Lian, setiap senyum yang ia berikan. Namun, ada satu orang yang mencium kebusukan di balik senyum Lian: Jenderal Zhao, tangan kanan Xuan, seorang pria setia yang telah mengabdi pada keluarga kekaisaran selama bertahun-tahun. Zhao memperingatkan Xuan, namun Xuan menolak untuk mendengarkan. "Kau cemburu, Zhao," kata Xuan dengan nada dingin. "Kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa Lian lebih berharga bagiku daripada dirimu." Malam *puncak* tiba saat perayaan ulang tahun Xuan. Aula Emas Kembar Naga dipenuhi dengan para bangsawan dan pejabat tinggi. Musik berdendang, anggur mengalir deras, dan tawa bergema di seluruh ruangan. Namun, di balik kemeriahan itu, Lian telah menyiapkan kejutan. Saat Xuan memberikan pidato, Lian maju ke depan. Ia mengangkat gelas anggurnya, dan senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi dingin yang menusuk tulang. "Yang Mulia Kaisar," kata Lian dengan suara yang jelas dan lantang, sehingga dapat didengar oleh semua orang di ruangan itu. "Aku mengangkat gelas ini untuk ***KEMATIANMU!***" Lalu, Lian menjatuhkan gelas anggurnya ke lantai. Serentetan prajurit yang telah setia padanya mengacungkan senjata mereka dan menyerbu ke arah Xuan. Zhao berusaha melindungi Xuan, namun ia kewalahan. Xuan, dengan tatapan *TERKEJUT* dan marah, menatap Lian. Ia tidak percaya wanita yang dicintainya telah mengkhianatinya. "Kenapa, Lian?" tanya Xuan dengan suara lirih. Lian mendekat ke arah Xuan. Matanya berkilat dengan api balas dendam. "Karena kau telah menghancurkan hidupku di kehidupan sebelumnya. Dan aku, Permaisuri Lian, akan memastikan kau membayar harga yang setimpal." Dengan gerakan anggun, Lian mencabut tusuk konde phoenix dari rambutnya dan menusukkannya ke jantung Xuan. Xuan tersungkur ke lantai, *DARAH* membasahi jubah naganya yang keemasan. Lian berdiri di atas singgasana, memandang para bangsawan dan pejabat tinggi yang ketakutan di hadapannya. "Kekuasaan sejati bukan terletak pada singgasana," kata Lian dengan suara dingin. "Namun pada kemampuan untuk mengendalikan orang-orang yang duduk di atasnya." Lalu, ia memberikan satu perintah terakhir: "Habisi mereka semua." Dan saat itulah, sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri.
You Might Also Like: 15 Premier Pictures

0 Comments: