## Ia Menyebut Namaku di Tengah Pertarungan, Lalu Mati Tanpa Menang Hujan kota mengguyur Jakarta, sama derasnya dengan air mata yang tak bisa lagi kubendung. Aroma kopi dari cangkir yang sudah dingin, tak mampu menghangatkan sisa-sisa malam yang ditinggalkan **Ren**. Ponselku berdering pelan, notifikasi yang tak lagi penting. Dulu, setiap notifikasi darinya adalah alarm kebahagiaan. Sekarang, hanya deretan angka dan huruf yang menyakitkan. Kami bertemu di dunia maya, tentu saja. *Random chat* di aplikasi kencan usang. Diawali dengan emoji konyol dan berakhir dengan janji bertemu di sebuah kafe remang-remang. Ren, dengan senyumnya yang menenangkan dan tatapannya yang menyimpan *misteri*. Aku terpikat. Bodohnya aku. Kami jatuh cinta di antara *scroll* Instagram dan sisa pulsa tengah malam. Mimpi-mimpi kami serupa: ingin menaklukkan dunia, meski hanya dengan secangkir kopi dan obrolan tanpa henti. Kami berbagi playlist Spotify, bertukar tautan film indie, dan saling menyematkan pin lokasi tempat-tempat rahasia di kota ini. Kenangan itu, seperti *cache* yang tak bisa dihapus dari memori ponselku. Tapi Ren punya rahasia. Ia selalu menghindar jika aku bertanya tentang pekerjaannya. Ia bilang, "Aku bertarung, Xiao. Bertarung untuk sesuatu yang penting." Aku percaya, atau lebih tepatnya, aku memilih untuk percaya. Cinta, pikirku, adalah kepercayaan. Pertarungan itu akhirnya menemukan ujungnya. Bukan kemenangan gemilang, melainkan kekalahan pahit. Ia meninggal. Bukan karena penyakit atau kecelakaan, melainkan tembakan di sebuah gudang tua di pinggiran kota. Aku tahu dari berita, dari foto buram mayat yang tergeletak di lantai berdebu. *Ren...* Polisi bilang, ia terlibat dalam jaringan kejahatan. Penyelundupan senjata. Narkoba. Aku menolak percaya. Ren yang kukenal, Ren yang mencintaiku dengan tulus, tak mungkin melakukan itu. Kemudian aku menemukan pesan terakhirnya. Bukan pesan teks, melainkan *voice note* yang tersembunyi di folder rahasia ponselnya. Suaranya serak, terengah-engah. Terdengar suara tembakan dan jeritan. "Xiao… aku… aku mencintaimu. Maafkan aku. Aku… **sebenarnya aku agen rahasia.** Jaringan ini… terlalu dalam. Aku… tidak akan… *menang.*" Lalu, sunyi. Hanya suara desiran angin dan _klik_ pertanda berakhirnya rekaman. Ia menyebut namaku. Di tengah pertarungan. Di ambang kematian. Lalu mati tanpa menang. Meninggalkan aku dengan ribuan pertanyaan dan satu luka menganga. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku tahu bagaimana membalas dendam. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan air mata. Melainkan dengan **Kebenaran.** Aku mengirimkan *voice note* itu ke media. Ke semua media yang bisa kubayangkan. Aku mengungkap semua yang kutahu, semua yang Ren pernah ceritakan padaku. Aku menghancurkan jaringan itu, pelan tapi pasti. *** Enam bulan kemudian, aku berdiri di depan pusaranya. Hujan masih mengguyur, tapi aku tidak menangis. Aku tersenyum. Senyum tipis, pahit, tapi penuh kemenangan. Aku menaburkan bunga kenanga di atas makamnya. Di ponselku, terkirim sebuah pesan otomatis: "Akun Anda berhasil dihapus." Aku membuang ponselku ke dalam selokan yang mengalir deras. Aku tidak akan pernah melupakannya. Tapi aku juga tidak akan pernah kembali ke masa lalu. *_Aku bebas._*
You Might Also Like: 161 Pin By Tricia Buckley On Fifth

0 Comments: