Oke, ini dia kisah pendek bergaya dracin yang kamu minta: **Kau Berbohong Tentang Cintamu, Tapi Aku Tetap Percaya Setiap Kali Kau Tersenyum** Anggrek bulan di balkon apartemenku bergoyang perlahan, ditiup angin malam Shanghai. Sama halnya dengan hatiku, berayun tak karuan di antara kenangan dan kenyataan. Di hadapanku, secangkir *longjing* mengepulkan aroma menenangkan, tapi tak mampu meredakan badai di dalam dada. Kau, Lin Wei, berdiri di sana, menatapku dengan mata setenang danau di musim gugur. Dulu, mata itu adalah cermin cintaku. Sekarang? Cermin kebohongan yang terukir indah. "Aku... harus pergi, Ming Yue," bisikmu, suaramu selembut sutra yang menyimpan duri. Setiap kata yang kau ucapkan adalah *senyum yang menipu*. Dulu, senyummu adalah matahariku. Kini, hanya bayangan hantu di balik rembulan. Setiap sentuhanmu dulu adalah *pelukan yang beracun*, memabukkan sekaligus mematikan. Setiap janji yang terucap kini berubah menjadi *belati* yang menghunus jantungku perlahan. Aku hanya mengangguk, menuangkan teh ke cangkirmu. "Tentu, Lin Wei. Lakukanlah." Aku Ming Yue, pewaris tunggal keluarga Li yang disegani. Aku bisa membelikanmu seluruh Shanghai, seluruh dunia. Tapi, aku tidak bisa membeli ketulusanmu. Aku tidak bisa membeli cintamu. Aku terlalu naif. Terlalu percaya. Terlalu **MENCINTAIMU**. Kau mengira aku tidak tahu? Kau mengira aku buta? Aku tahu tentang pertemuan rahasiamu dengan Nyonya Zhang, tentang perjanjian bisnis yang mengorbankan perasaanku, tentang niatmu menikahi penerus keluarga Wang demi kekayaan dan kekuasaan. Tapi aku diam. Aku menari bersamamu dalam drama ini, dengan senyum manis dan anggukan kepala. Aku menutupi lukaku dengan gaun sutra mahal dan berlian berkilauan. Aku adalah *elegansi yang bersembunyi di balik air mata*. Beberapa bulan kemudian, pernikahanku denganmu dibatalkan. Bukan karena aku mengungkapkan kebenaran, bukan karena aku marah dan berteriak. Aku hanya... *menarik investasiku* dari perusahaanmu. Perlahan, sistematis, dan tanpa ampun. Aku menyaksikan perusahaanmu merugi, reputasimu tercoreng, dan mimpimu runtuh di depan matamu. Aku menyaksikan penyesalan merayapi wajahmu saat kau menatapku, memohon ampun. "Ming Yue... maafkan aku," lirihmu, suaramu serak dan hancur. Aku hanya tersenyum, *senyum yang sama yang dulu membuatmu jatuh cinta padaku*. Senyum yang kini akan menghantuimu selamanya. Aku tidak ingin darah. Aku tidak ingin kekerasan. Aku hanya ingin kau merasakan sedikit dari rasa sakitku. Rasa sakit kehilangan, rasa sakit pengkhianatan, rasa sakit cinta yang dibuang percuma. Kau mungkin mendapatkan kekayaan dan kekuasaan yang kau dambakan. Tapi kau kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga. Kau kehilangan aku. Dan kau akan menyesalinya selamanya. Saat kau berbalik dan pergi, aku berbisik pada diriku sendiri: *Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama.*
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Peluang Usaha

0 Comments: