**Bayangan yang Menulis Namamu di Luka** Di tepian Sungai Awan, kabut menggantung seperti kerudung pengantin yang terlupa. Di sanalah, dalam mimpi yang berkepanjangan, aku melihatmu. Bukan wujud nyata, melainkan bayangan yang menari di antara dedaunan *maple* yang berguguran, warnanya semerah darah di atas salju. Setiap kali senja mencium cakrawala, namamu terukir di dadaku, bukan dengan tinta, melainkan dengan *LUKA* yang membara. Luka itu indah, anehnya, seperti taman terlarang yang dipenuhi bunga teratai beracun. Aku memanggilmu, dengan suara yang tak lebih dari bisikan angin. Namun, gema suaraku hanya bergema di antara kuil-kuil kuno yang terlupakan, di mana patung-patung dewa tersenyum sinis, menyaksikan kesia-siaanku. Mungkin, kau hanya lukisan di atas sutra usang, dilukis oleh seorang pelukis gila yang jatuh cinta pada ilusi. Atau mungkin, kau adalah sisa-sisa melodi dari era yang telah lama hilang, denting piano yang dimainkan oleh jari-jari hantu. Di dalam mimpi, kita menari di bawah hujan meteor. Setiap bintang yang jatuh adalah janji yang tak pernah terucapkan, sumpah abadi yang terkubur di dasar samudra waktu. Kita berpegangan tangan, tetapi sentuhanmu terasa seperti angin sepoi-sepoi yang menusuk tulang. Aku mencoba meraihmu, melewati tirai kabut yang memisahkan kita. Aku berlari mengejar bayanganmu, di labirin cermin yang tak berujung. Setiap langkah adalah harapan, setiap harapan adalah kekecewaan. Akhirnya, di balik tirai *sakura* yang mekar sempurna, rahasia itu terungkap. Bayangan itu… adalah pantulanku sendiri. Aku telah jatuh cinta pada cermin, pada ilusi kesempurnaan yang tak pernah ada. Luka itu semakin dalam, kini terisi dengan kebenaran yang pahit. Namun, di tengah kepedihan, aku merasakan keindahan yang tak terlukiskan. Aku telah mencintai sesuatu yang tak mungkin, dan dalam ketidakmungkinan itulah, aku menemukan diriku. *Dan kemudian…* Bisikan itu datang, dari lorong waktu yang terlupakan: "Kaulah bayangan yang menulis namamu sendiri."
You Might Also Like: Collection Of Pictures_01187401183

0 Comments: