Judul: Hujan di Lembah Terlupa Hujan menggigil di Lembah Terlupa, persis seperti hatiku, Li Wei, saat menatap punggungnya. Punggung tegap yang dulu selalu menjadi sandaranku, kini bagaikan tembok tinggi, dingin dan tak tertembus. Zhao Feng, nama itu berdesir bagai bisikan angin maut di telingaku. Lima belas tahun… Lima belas tahun sejak pengkhianatan itu merobek jiwa kami berdua. Lentera di beranda gubukku menari-nari gelisah, cahayanya nyaris padam, kalah oleh kelam malam. Bayangan kami berdua, dulu terpahat mesra di dinding-dinding kenangan, kini patah dan terdistorsi. Aku bisa merasakan tatapannya, berat dan mengintimidasi, menusuk dari balik kegelapan. Dulu, tatapan itu adalah madu, sekarang adalah racun. "Sudah lama, Li Wei," suaranya parau, bagai gesekan batu di dasar sungai. Setiap kata yang terucap terasa seperti belati yang menghunus jantungku perlahan. "Terlalu lama, Zhao Feng," balasku, suaraku hampir tak terdengar. Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum, sebuah senyum pahit yang hanya mampu dipahami oleh mereka yang pernah merasakan cinta sedalam ini. Dulu, di lembah ini, di bawah rindang pohon sakura yang kini tinggal kenangan, kami berjanji untuk selamanya. Janji yang kemudian dikhianati dengan keji demi ambisi dan kekuasaan. Ia memilih tahta, dan aku… aku memilih bertahan hidup, menelan semua kepedihan seorang diri. Aku bisa melihat kerutan di sekitar matanya, bukti bahwa waktu tak hanya menyiksaku. Mungkin ia juga merindukan masa lalu, mungkin ia juga menyesal. *Mungkin*. Tapi penyesalan tak akan mengembalikan apa yang telah hilang. Kepercayaanku, harga diriku, dan yang paling menyakitkan… cintaku yang polos. Semakin malam, hujan semakin deras. Aku mempersilakannya masuk, bukan karena belas kasihan, tapi karena inilah bagian dari rencanaku. Rencana yang telah kupersiapkan selama lima belas tahun, rencana yang menuntut *DARAH* dibayar dengan DARAH. Kami duduk berhadapan di dekat perapian, api menari-nari liar, serupa dengan gejolak amarah di dalam diriku. Aku menuangkan arak untuknya, arak yang telah kucampur dengan ramuan mematikan. Ia meminumnya tanpa curiga, matanya menatapku dalam-dalam. "Kau… kenapa?" Ia tersedak, wajahnya memucat. Aku tersenyum, senyum yang dingin dan mematikan. "Balas dendam, Zhao Feng. Lima belas tahun aku menanti saat ini. Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup bahagia setelah menghancurkan hidupku?" Ia terhuyung, mencoba meraihku, tapi tenaganya sudah terkuras. Tubuhnya ambruk ke lantai, matanya nanar menatap langit-langit gubuk. "Kenapa… kenapa *kau*? Kupikir… kau… mencintaiku…" Suaranya hampir hilang. Aku berlutut di sampingnya, menatap matanya dengan dingin. "Cinta? Cinta sudah mati sejak kau memilih tahta. Tapi ada satu hal yang kau tidak tahu, Zhao Feng… *putramu, bukan darah dagingmu*."
You Might Also Like: Endingnya Gini Aku Mencintaimu Dalam

0 Comments: