**Bayangan yang Mengintai di Balik Dupa** Aroma cendana menyelimuti Paviliun Bulan Purnama, aroma yang dulu begitu akrab dengan tawa renyah Lian Hua dan bisikan mesra antara dirinya dan Jing Wei. Kini, aroma itu terasa bagai duri, menusuk relung hatinya yang paling dalam. Delapan belas tahun telah berlalu sejak malam terakhir itu, malam saat janji diukir di bawah temaram lentera, janji yang kini hanyalah abu yang beterbangan dihembus angin musim gugur. Jing Wei menatap lukisan di depannya, potret Lian Hua muda dengan senyum yang mampu meluluhkan dinginnya salju. *LIAN HUA*. Nama itu berbisik lirih di bibirnya, nama yang seharusnya ia lindungi, ia bahagiakan, bukan ditinggalkan demi ambisi dan tahta yang terasa begitu hampa kini. Ia telah menjadi Kaisar, menguasai segalanya, namun kehilangan satu-satunya hal yang benar-benar berarti. Suara langkah kaki mendekat, berat dan berwibawa, namun Jing Wei tahu itu bukan suara yang ia rindukan. Itu adalah suara Permaisuri Xian, wanita yang dinikahinya demi aliansi politik, wanita yang tak pernah bisa menggantikan Lian Hua di hatinya. "Kaisar," sapa Xian dengan suara dingin, "Anda masih mengenang wanita itu?" Jing Wei tak menjawab. Ia hanya membalikkan badan, menatap Xian dengan sorot mata yang redup. Di matanya, Xian melihat pantulan rasa bersalah, penyesalan abadi yang tak akan pernah terhapuskan. "Dia...dia telah meninggal. Sudah seharusnya Kaisar melupakannya," desis Xian, nada bicaranya penuh kebencian yang disembunyikan dengan baik. "Melupakannya? Bagaimana bisa aku melupakan jantungku sendiri?" balas Jing Wei dengan suara serak. Kata-kata itu bagai tamparan bagi Xian. Malam itu, di bawah cahaya rembulan yang pucat, Xian menuangkan secangkir teh untuk Jing Wei. Teh itu beraroma melati, namun ada sedikit rasa pahit yang aneh. Jing Wei meneguknya tanpa curiga, pikirannya masih terpaku pada lukisan Lian Hua. Beberapa saat kemudian, Jing Wei merasakan denyutan aneh di dadanya. Kesadarannya mulai kabur. Ia menatap Xian dengan tatapan bertanya, namun yang dilihatnya hanyalah senyum dingin yang mengerikan. "Anda terlalu lama hidup dalam bayang-bayang masa lalu, Kaisar. *Ini adalah keadilan untuk Lian Hua*," bisik Xian sebelum Jing Wei kehilangan kesadarannya sepenuhnya. Saat Jing Wei menghembuskan napas terakhirnya, Xian menyeringai. Ia tahu, kematiannya akan diselubungi sebagai serangan jantung, tak ada yang akan mencurigainya. Ia hanya alat, bidak dalam permainan yang lebih besar. Karena *DIA* yang sebenarnya menginginkan kematian Kaisar Jing Wei, DIA yang merencanakan segalanya dari balik layar, DIA yang selalu mengintai dalam kegelapan. *Cinta yang dikhianati melahirkan dendam yang tak terelakkan, dan takdir punya cara sendiri untuk menuntut keadilan, bukan begitu?*
You Might Also Like: Zhang Linghes First Variety Show Was

0 Comments: