Baiklah, ini dia kisah dracin intens yang kamu inginkan: **Aku Membunuh Demi Tahta, Tapi Hatiku Mati Karenamu.** Malam merambat, pekat dan d...

Harus Baca! Aku Membunuh Demi Tahta, Tapi Hatiku Mati Karenamu. Harus Baca! Aku Membunuh Demi Tahta, Tapi Hatiku Mati Karenamu.

Harus Baca! Aku Membunuh Demi Tahta, Tapi Hatiku Mati Karenamu.

Harus Baca! Aku Membunuh Demi Tahta, Tapi Hatiku Mati Karenamu.

Baiklah, ini dia kisah dracin intens yang kamu inginkan: **Aku Membunuh Demi Tahta, Tapi Hatiku Mati Karenamu.** Malam merambat, pekat dan dingin menusuk tulang, seperti *dendam* yang telah lama dipendam. Istana megah, yang seharusnya menjadi lambang kemuliaan, kini terasa seperti penjara batu yang mengurungku dalam kesunyian abadi. Di luar, salju turun tanpa henti, menyelimuti segalanya dengan warna putih pucat, seolah berusaha menyembunyikan noda darah yang mengering di baliknya. Aku, Pangeran Rui, telah melakukan segalanya demi tahta. Pembunuhan, pengkhianatan, intrik... semuanya kulakukan dengan tangan dingin. Setiap tetes darah yang tumpah adalah tangga bagiku menuju puncak kekuasaan. Namun, di puncak inilah aku menemukan kehampaan. Tahta ini, yang dulunya kuidam-idamkan, terasa dingin dan hampa, sama seperti hatiku. Lalu, ada dia. Mei Lan. Seperti kembang plum yang mekar di tengah badai salju, kecantikannya begitu memukau, namun rapuh. Matanya menyimpan rahasia yang dalam, sebuah kisah pilu yang terpancar setiap kali ia menatapku. Kami terikat, terjalin dalam *benang kusut* cinta dan kebencian. Cinta yang tumbuh di tengah lautan darah, kebencian yang berasal dari luka masa lalu yang belum sembuh. Dulu, dia adalah putri seorang jenderal yang setia pada ayahku. Tapi ayahku, yang terobsesi dengan kekuasaan, menuduh jenderal itu berkhianat dan menghukum mati seluruh keluarganya. Mei Lan lolos, tumbuh besar dalam persembunyian, dan bersumpah akan membalas dendam. Aku tahu. Aku *selalu* tahu. Malam ini, di bawah rembulan pucat yang mengintip dari balik awan kelabu, rahasia itu akhirnya terkuak. Kami berdiri berhadapan di halaman belakang istana, di tengah badai salju yang semakin menggila. Di antara hembusan angin dan suara langkah kaki prajurit yang berpatroli, Mei Lan membuka kedoknya. "Pangeran Rui," bisiknya, suaranya bergetar menahan amarah dan kesedihan. "Aku telah menunggumu di sini. Aku akan menuntut balas atas kematian ayahku." Air mata membeku di pipinya, berkilauan di antara asap dupa yang membumbung dari kuil leluhur di kejauhan. Aku bisa merasakan sakitnya, penderitaannya, kebenciannya. Aku bisa merasakan *semuanya*, karena aku juga merasakan hal yang sama. "Aku tahu," jawabku, suaraku serak. "Aku tahu kau akan datang." Aku melihat belati perak di tangannya, berkilauan mematikan di bawah cahaya rembulan. Belati itu adalah pusaka keluarganya, simbol kehormatan dan keadilan. Kini, belati itu akan digunakan untuk membunuhku. Aku menutup mata, membiarkan angin dan salju menerpa wajahku. Aku tidak melawan. Aku tidak akan menghindar. Aku pantas mendapatkan ini. Setiap malam aku bermimpi tentang wajah-wajah yang mati karena keputusanku. Dan sekarang, saatnya aku membayar hutangku. Namun, saat belati itu mendekat, aku membuka mata dan menatap Mei Lan. Aku melihat keraguan di matanya, setitik cinta yang belum padam di balik lautan kebencian. "Jangan," bisikku, nyaris tak terdengar. "Jangan kotori tanganmu karena aku." Dia ragu. Tangannya gemetar. Air matanya semakin deras mengalir. Aku meraih tangannya yang memegang belati, menggenggamnya erat. "Biarkan aku yang mengakhiri ini." Aku merebut belati itu dari tangannya dan menusukkannya ke dadaku sendiri. Darahku memancar, mewarnai salju putih dengan warna merah. Aku merasakan sakit yang amat sangat, tetapi aku juga merasakan kedamaian. Akhirnya, semuanya akan berakhir. Mei Lan berteriak, suaranya memilukan. Dia mendekapku erat, air matanya membasahi wajahku. "Kenapa?" tanyanya, suaranya hancur. "Kenapa kau lakukan ini?" Aku tersenyum lemah, merasakan hidupku perlahan menghilang. "Karena... aku mencintaimu. Dan... aku tidak pantas untukmu." Kata-kata terakhirku terucap di atas abu, janji yang tak pernah bisa kutepati. Aku mati di pelukannya, *mati untuknya*. Beberapa hari kemudian, di tengah upacara pemakaman yang megah, Mei Lan berdiri di samping peti matiku. Dia mengenakan pakaian berkabung, wajahnya pucat dan tanpa ekspresi. Ketika semua orang pergi, dia mendekat ke peti matiku dan membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh angin. Lalu, dia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan istana dan tahta yang telah merenggut segalanya darinya. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya padanya. Aku tidak tahu apakah dia menemukan kedamaian ataukah dia akan terus dihantui oleh masa lalu. Yang kutahu hanyalah, balas dendamnya telah usai. *Dia mengambil tahta yang kuperebutkan dengan nyawa, bukan dengan pedang, melainkan dengan meninggalkan segalanya, membiarkan istana ini menjadi kuburanku yang abadi.* Dan di tengah keheningan istana yang megah, bisikan angin membawa sebuah pertanyaan yang menggantung, membekukan darah dalam diam: **Apakah kematianku benar-benar membebaskan dia, atau justru mengikatnya pada takdir yang lebih mengerikan?**
You Might Also Like: Mimpi Digigit Cecurut Ternyata Ini

0 Comments: