**Air Mata yang Mengalir di Atas Makam** Cahaya senja memudar, menyisakan semburat jingga di langit Kota Terlarang yang megah. Li Hua berdiri di depan makam itu, batu nisan putih yang kontras dengan sutra hitam yang membalut tubuhnya. Diukir di sana, nama yang dulu selalu ia bisikkan dalam mimpi: Wei Lian. Dulu, mereka adalah dua sisi koin yang sama. Li Hua, putri seorang jenderal, dan Wei Lian, putra seorang tabib kerajaan. Cinta mereka tumbuh di antara kebun bunga persik dan bisikan rahasia di balik tirai istana. Wei Lian berjanji akan menjemputnya, membawanya pergi dari sangkar emas ini, hidup bahagia di sebuah desa kecil yang jauh dari intrik dan kekuasaan. *Janji itu*… hancur berkeping-keping seperti porselen yang terjatuh dari ketinggian. (Dengan suara bergetar) "Wei Lian…," bisiknya, suaranya hampir tenggelam dalam desiran angin sore. "Kau tahu, aku datang. Aku… datang menemui janjimu." Air mata mengalir di pipinya, membasahi sutra hitam yang mahal. Air mata itu bukan hanya penyesalan, bukan hanya kesedihan karena kehilangan. Ada amarah di sana, bara api yang membakar hatinya selama bertahun-tahun. Wei Lian mati bukan karena sakit. Ia dibunuh. Dibunuh karena menolak menikahi putri seorang menteri yang berpengaruh, seorang wanita yang terobsesi padanya. Pembunuhan itu disamarkan sebagai kecelakaan, namun Li Hua tahu yang sebenarnya. Ia tahu siapa yang merencanakan semuanya. Li Hua menyeka air matanya. Ia sudah tidak lagi gadis polos yang mencintai Wei Lian dengan sepenuh hati. Sekarang, ia adalah permaisuri. Ia memiliki kekuasaan. Ia memiliki kendali. Dan ia akan memastikan keadilan ditegakkan, bukan dengan pedang dan darah, melainkan dengan racun yang manis dan kematian yang perlahan. Permaisuri itu, putri menteri yang membunuh Wei Lian, kini menderita penyakit misterius. Dokter-dokter terbaik kerajaan dibuat bingung. Perlahan, ia mengering, kehilangan kecantikannya, kehilangan akalnya. Li Hua tidak mengunjunginya. Ia hanya mengirimkan buah-buahan segar dan anggur terbaik, setiap gigitan dan tegukan mengandung *kesakitan yang tak terucapkan*. Ia membayangkan wajah Wei Lian, wajah yang dulu dipenuhi cinta dan harapan. Ia membayangkan senyumnya, tawanya, sentuhan tangannya. Ia membayangkan kebahagiaan yang telah direnggut darinya. Kemudian, ia mengingat wajah menteri itu, wajah penuh kesombongan dan kekuasaan. Angin bertiup kencang, menggoyangkan lentera di sekitar makam. Li Hua berdiri tegak, memandang nisan itu untuk terakhir kalinya. “Kau tenanglah, Wei Lian,” bisiknya. “Mereka akan membayar.” Ia berbalik, melangkah pergi meninggalkan makam, meninggalkan air mata yang mengalir di atas batu nisan, meninggalkan sebuah kerajaan yang dibangun di atas kesedihan dan dendam. Cinta abadi, atau sumpah untuk membalas dendam, akankah hanya kekosongan yang tersisa pada akhirnya?
You Might Also Like: Jualan Skincare Modal Kecil Untung

0 Comments: