**Cinta yang Hidup di Tubuh Asing** Di antara kabut sutra danau musim gugur, di mana bayangan pepohonan menari seperti penari tanpa suara, aku bertemu dengannya. Bukan di dunia nyata, melainkan dalam *lukisan* tua yang kusut, seorang wanita dengan mata sekelam malam dan senyum selembut rembulan. Namanya, desis angin memberitahuku, adalah Mei Hua. Setiap malam, saat dunia terlelap dalam mimpi, aku memasuki bingkai itu. Aku berjalan di antara bunga sakura yang berguguran, menyentuh jubah sutra yang dingin, dan mendengar tawanya berdering seperti lonceng perak yang terlupa. Di sana, di dunia cat dan kanvas, aku jatuh cinta padanya. Cinta yang *murni*, abadi, dan— tragisnya— *tidak nyata*. Tubuhku di dunia ini hanyalah wadah kosong. Jiwaku, bersemayam di tubuh seorang pria modern, mendambakan keanggunan dinasti yang hilang. Hatiku, berdetak di irama dunia yang bising, merindukan keheningan taman-taman tersembunyi dan bisikan puisi kuno. Mei Hua melihatku. Bukan diriku yang sekarang, melainkan *dirinya* yang dulu. Pria yang pernah mencintainya, pria yang mati di medan perang sebelum sempat mengucapkan janji abadi. Aku adalah *reinkarnasi*, bayangan samar dari masa lalu yang mencoba meraih masa kini. Kami menari di bawah rembulan yang sama, meskipun rembulan itu melintasi rentang waktu yang berbeda. Kami bertukar ciuman yang terasa seperti mimpi, meskipun bibir kami tidak pernah benar-benar bersentuhan. Cinta kami adalah simfoni yang indah, dimainkan di atas senar *kerinduan* dan *penyesalan*. Suatu malam, di tengah kabut yang semakin pekat, aku menemukan sebuah kotak kayu kecil tersembunyi di balik lukisan. Di dalamnya, tergeletak sehelai rambut hitam, sepotong kain sutra berlumuran darah, dan sebuah gulungan perkamen yang rapuh. Di atas perkamen itu, terukir kata-kata yang ditulis dengan tinta yang memudar: “_Kepada kekasihku, Mei Hua. Jika kau membaca ini, ketahuilah bahwa aku akan selalu bersamamu, meskipun di dalam tubuh orang asing_.” Air mata mengalir di pipiku. *Pengungkapan* ini adalah pisau yang menusuk jantungku. Aku bukan hanya reinkarnasi. Aku adalah tawanan waktu, terperangkap dalam siklus abadi untuk mengulangi cinta yang telah hilang. Aku adalah dirinya, dan dia adalah aku. Kami adalah satu, terpisah oleh kematian dan disatukan oleh takdir yang *kejam*. Keindahan cinta ini, justru yang *menghancurkan*. Mengetahui bahwa aku adalah dirinya, membuatnya semakin mustahil untuk bersatu. Aku adalah hantu, dia adalah lukisan. Kami adalah dua dunia yang tidak bisa saling menyentuh. Di saat terakhir, sebelum aku terlempar kembali ke duniaku, dia berbisik, “_Jangan lupakan aku… jangan pernah…_” Dan bisikan itu, bergema selamanya dalam jiwaku yang *terluka*.
You Might Also Like: Unlock Magical World Of Disney At

0 Comments: