Baik, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Air Mata yang Menjadi Embun Pagi': **Air Mata yang Menjadi Embun Pagi** Kabut putih meng...

Absurd tapi Seru: Air Mata Yang Menjadi Embun Pagi Absurd tapi Seru: Air Mata Yang Menjadi Embun Pagi

Absurd tapi Seru: Air Mata Yang Menjadi Embun Pagi

Absurd tapi Seru: Air Mata Yang Menjadi Embun Pagi

Baik, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Air Mata yang Menjadi Embun Pagi': **Air Mata yang Menjadi Embun Pagi** Kabut putih menggantung pekat di lereng Gunung Lian, menyelimuti pagoda-pagoda kuno dengan misteri. Di lorong-lorong Istana Awan, yang biasanya riuh dengan bisikan intrik, kini hanya ada kesunyian yang menusuk tulang. Sepuluh tahun telah berlalu sejak Putri Mei Li *menghilang*, diduga tewas dalam pemberontakan berdarah. Namun, malam ini, di bawah rembulan pucat, sosok berkerudung muncul di gerbang istana. Angin dingin menerbangkan kerudungnya, menyingkap wajah yang terlalu familiar: Mei Li, atau seseorang yang *sangat* mirip dengannya. Penjaga istana, tua dan renta, gemetar melihatnya. "Putri...?" bisiknya, suaranya tercekat. "Sudah lama, Paman Lin," jawab Mei Li, suaranya lembut namun mengandung *nada perintah* yang tak terbantahkan. "Bawa aku menemui Kaisar." Di ruang tahta, Kaisar Xian, yang kini renta dan beruban, menatap putrinya yang kembali dengan tatapan tak percaya. Matanya, yang dulu dipenuhi ambisi, kini dipenuhi keraguan dan rasa bersalah. "Mei Li... apakah ini benar-benar kau?" tanyanya lirih. Mei Li mendekat, berjalan anggun bagaikan bangau di atas salju. "Ayahanda merindukanku? Padahal, Ayahanda sendiri yang *membiarkan* aku pergi." Kaisar tersentak. "Omong kosong! Aku... aku memerintahkan pencarian selama bertahun-tahun!" Mei Li tersenyum tipis, sebuah senyuman yang *tidak* mencapai matanya. "Pencarian yang diarahkan ke arah yang salah. Tahukah Ayahanda, kemana 'aku' dibawa?" "Dimana?" "Ke dalam bayangan. Ke dalam pelatihan. Untuk menjadi senjata Ayahanda yang *paling ampuh*." Mei Li berhenti, menatap Kaisar langsung ke matanya. "Pemberontakan itu... hanyalah sandiwara. Sebuah panggung yang Ayahanda siapkan untukku." Kaisar terhuyung mundur, napasnya tersengal. "Tidak... aku tidak...!" "Ya, Ayahanda. Ayahanda menginginkan tahta ini lebih dari apapun. Dan aku, anak perempuan Ayahanda, adalah *bidaknya*. Aku diperintahkan untuk menyusup ke kelompok pemberontak, untuk mendapatkan kepercayaan mereka, dan kemudian... menghancurkan mereka dari dalam. Aku melakukan apa yang Ayahanda perintahkan." "Lalu, mengapa kau kembali sekarang?" tanya Kaisar, suaranya bergetar. Mei Li mengulurkan tangan, menyentuh pipi Kaisar dengan lembut. "Untuk menagih hutang." Kaisar Xian menatap mata putrinya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia melihat *kekosongan* yang tak terhingga. Dia melihat bukan Mei Li yang dulu, tapi seorang *pembunuh* berdarah dingin yang mengenakan topeng seorang putri. "Apa yang kau inginkan?" tanyanya, menyerah pada nasibnya. Mei Li berbisik, "Aku ingin *kerajaan*." *** Beberapa hari kemudian, Kaisar Xian ditemukan tewas di kamarnya. Penyebab kematiannya adalah serangan jantung. Namun, di bawah kuku jari tangan kanannya, ditemukan serat sutra ungu... warna yang hanya dikenakan oleh *putri* Mei Li. Dan di balik senyum Mei Li, tersembunyi rahasia yang lebih gelap: pemberontakan itu bukanlah panggungnya, *kerajaanlah* panggungnya, dan dia adalah dalang di balik tirai. Korban? Tidak. *Arsitek* dari segala kehancuran. **Air mata yang dulu menetes, kini telah membeku menjadi embun pagi yang mematikan, menyirami takhta dengan racun yang tak terdeteksi.**
You Might Also Like: Actor Jim Beaver Files For Divorce From

0 Comments: