Judul: Bisikan Hujan di Lembah Terlarang Hujan menggigil di Lembah Terlarang, persis seperti lima belas tahun lalu saat mereka berdua mengucapkan janji. Janji yang dikhianati. Janji yang kini hanya menjadi debu dalam ingatan. Xiao Lan, dengan payung usang di tangannya, berdiri di depan gubuk reyot. Dari celah dinding bambu, cahaya lentera yang nyaris padam menari-nari, memproyeksikan bayangan yang patah di tanah basah. Bayangan seperti hatinya. Di dalam, duduklah Chen Yi. Wajahnya tirus, matanya cekung. Ia tidak lagi seperti Chen Yi yang dulu, pemuda riang dengan senyum menawan yang mampu meluluhkan gunung es. Kini, yang tersisa hanyalah sisa-sisa kesedihan yang mengendap, seperti lumpur di dasar danau. "Kau datang," gumam Chen Yi tanpa menatap Xiao Lan. Suaranya serak, hampir tak terdengar di tengah deru hujan. Xiao Lan melangkah masuk, meninggalkan genangan air di lantai tanah. Udara di dalam pengap dan dingin, dipenuhi aroma kayu bakar yang terbakar sebagian. "Aku datang untuk mendengar alasanmu." Chen Yi tertawa pahit. Tawa yang lebih menyayat daripada tangisan. "Alasan? Bukankah aku sudah mengatakannya lima belas tahun lalu? Aku memilih kekayaan. Aku memilih **KELUARGA**. Aku memilih—" "—menghancurkan hatiku," Xiao Lan menyelesaikan kalimatnya. Matanya berkilat, namun air mata enggan menetes. Ia sudah terlalu lama menangis. Air matanya sudah kering. "Dulu aku percaya cinta kita akan mengalahkan segalanya," lanjut Xiao Lan, suaranya tenang namun penuh racun. "Tapi kau membuktikannya salah. Kau mengkhianatiku demi kekuasaan dan status." Chen Yi akhirnya menatapnya. Ada sedikit kebingungan, sedikit ketakutan di matanya. "Aku… aku harus melindungi keluargaku." "Melindungi keluarga dengan menghancurkan yang lain? Sungguh mulia," desis Xiao Lan. Ia berjalan mendekat, langkahnya ringan namun mematikan. "Kau tahu, Chen Yi, selama lima belas tahun aku hidup dalam bayang-bayangmu. Dalam bayang-bayang pengkhianatanmu. Aku hidup dengan mimpi buruk setiap malam. Aku… *merencanakan*. Aku belajar. Aku bersabar." Cahaya lentera berkedip sekali, dua kali. Hampir padam. Di tengah kegelapan yang tiba-tiba, Xiao Lan mendekatkan wajahnya ke telinga Chen Yi. Ia membisikkan sesuatu yang membuat darah Chen Yi membeku. "Kau kira aku satu-satunya yang menderita? Kau kira aku satu-satunya yang kehilangan? Oh, Chen Yi… kau salah besar. *Keluargamu yang kaulindungi itu… sebenarnya bukan milikmu*."
You Might Also Like: Manfaat Sunscreen Lokal Ringan Cocok

0 Comments: