**Aku Menatap Langit Hitam, dan Tahu Malam Ini Tak Akan Berakhir** Lentera-lentera berlumuran cahaya keemasan menari di permukaan Sungai Awan. Cahayanya memantul pada wajahku, wajah yang asing namun terasa begitu akrab. Di *dunia ini*, dunia roh yang berbisik, aku dipanggil Lian. Dulu, di dunia manusia, aku adalah... tidak, aku *bukan* apa-apa lagi. Kematian telah menghapus namaku dari catatan. Di sini, di dunia roh, bayangan berbicara. Mereka melukis kisah-kisah lama di dinding-dinding bambu, kisah tentang perang abadi antara cahaya dan kegelapan, kisah tentang Dewa Bulan yang bisu namun ***Mengingat*** setiap nama yang pernah diucapkannya. Aku menatap langit. Tidak ada bintang. Hanya tinta hitam pekat yang mengalir turun, menelan cahaya lentera satu per satu. “Malam ini berbeda,” bisik Wei, roh rubah yang menjadi pemanduku. Bulunya berkilauan seperti debu bintang yang dicuri dari mimpi. “Malam ini, gerbang antara dunia terbuka lebar. Malam ini, rahasia akan terungkap.” Aku tidak mengerti. Aku *tidak* ingin mengerti. Aku hanya ingin merasakan hangatnya lentera di tanganku, mendengarkan melodi sungai yang berbisik, dan melupakan—melupakan rasa sakit kematian, melupakan wajah-wajah yang menangisiku, melupakan masa lalu yang kini terasa seperti mimpi buruk. Tapi takdir, rupanya, memiliki rencana lain. Di bawah bulan yang *seolah* bernapas, Wei membawaku ke Kuil Terlarang. Dindingnya dihiasi ukiran naga yang mengular, matanya terbuat dari batu rubi yang berdenyut. Di tengah kuil, terpampang lukisan besar seorang wanita. Wajahnya... wajahku. “Kau bukan Lian,” bisik Wei. “Kau adalah titisan Bulan, yang *dibuang* ke dunia manusia untuk menyembunyikan kekuatannya.” Kekuatan? Aku? Aku hanya seorang gadis biasa, mati karena kecelakaan bodoh. *Atau benarkah begitu?* Malam itu, aku melihatnya. Bayanganku sendiri, terpisah dariku, berbicara dengan suara yang dalam dan dingin. “Kematianmu bukan kecelakaan, Lian. Itu adalah awal. Kau dilahirkan kembali untuk memenuhi takdirmu.” Aku menolak. Aku tidak mau menjadi titisan dewi, tidak mau terlibat dalam perang kuno, tidak mau apapun selain kedamaian. Tapi semakin aku menolak, semakin jelaslah kebenaran yang menyakitkan: seseorang telah memanipulasi takdirku, menarik benang-benang kehidupan dan kematianku seperti dalang memainkan wayang. Dan semakin aku mencari, semakin aku menyadari bahwa dua sosok yang selalu ada dalam pikiranku—di dunia manusia, kekasihku, Jian, yang cintanya begitu tulus; dan di dunia roh, Dewa Bulan yang selalu mengawasiku dari kejauhan—berperan lebih besar dari yang kubayangkan. Jian, cintanya begitu murni, ternyata adalah reinkarnasi dari Jenderal Perang Agung, yang bersumpah untuk melindungiku. Dan Dewa Bulan... Dewa Bulan, yang wajahnya selalu disembunyikan di balik kegelapan, ternyata adalah *pencipta* dari takdirku, yang mengorbankan segalanya demi melindungiku dari kegelapan yang mengintai. Tapi, siapa yang benar-benar mencintai? Dan siapa yang memanipulasi? Jawabannya tersembunyi di balik tatapan mata Dewa Bulan, di balik senyum Jian yang menenangkan, di balik keheningan malam yang ***MENCEKAM***. Malam itu, saat langit terbelah dan dua dunia bertabrakan, aku tahu kebenaran: bukan takdir yang memaksaku, tapi *cinta*. Cinta yang bisa menyelamatkan, atau menghancurkan. Aku berdiri di antara dua dunia, dengan pedang di tangan dan air mata di pipi. Aku memilih. Dan dengan pilihan itu, segalanya berubah. Kematian adalah awal, cinta adalah kunci, dan malam ini… adalah ***KEKAL***. *Biarkan kegelapan menjadi cahaya, biarkan keheningan menjadi lagu, biarkan takdir menjadi pilihan.*
You Might Also Like: 120 Types Of Slope Worksheet

0 Comments: