**Cinta yang Menuntut Darah** Hujan gerimis membasahi paviliun di Taman Bunga Mei. Wangi melati yang biasanya menenangkan, malam ini terasa ...

Drama Baru! Cinta Yang Menuntut Darah Drama Baru! Cinta Yang Menuntut Darah

Drama Baru! Cinta Yang Menuntut Darah

Drama Baru! Cinta Yang Menuntut Darah

**Cinta yang Menuntut Darah** Hujan gerimis membasahi paviliun di Taman Bunga Mei. Wangi melati yang biasanya menenangkan, malam ini terasa pahit di lidah Lan. Di hadapannya, berdiri sosok yang dulu memenuhi mimpinya, Li Wei. Wajahnya, setampan dulu, namun mata itu, mata yang pernah memancarkan cinta padanya, kini dingin dan asing. "Lan…" bisiknya, suara seraknya kalah oleh gemerisik dedaunan. "Maafkan aku." Maaf. Satu kata yang terasa seperti pisau menghunus jantung Lan. Maaf untuk apa? Untuk janji sehidup semati yang diucapkannya di bawah pohon sakura lima tahun lalu? Untuk pernikahan yang hancur berantakan karena ambisi dan keserakahannya? Untuk darah *Keluarga Lan* yang tumpah demi tahtanya? "Maaf? Apa kata itu bisa menghidupkan kembali ayahku, Li Wei? Bisakah itu mengembalikan senyum ibuku?" Lan bertanya, suaranya tenang namun mengandung lahar yang siap meledak. Air matanya, tak lagi berharga, bercampur dengan air hujan. Li Wei menunduk, bahunya bergetar. "Aku...aku tidak punya pilihan. Kekuatanlah yang bisa melindungi rakyat." "Kekuatan yang dibangun di atas darah orang tak bersalah? Kekuatan yang merenggut kebahagiaanku?!" Lan tertawa getir. Ia ingat malam itu, ketika pasukan Li Wei menyerbu kediaman keluarganya. Ia ingat jeritan ibunya, tatapan putus asa ayahnya, sebelum pedang menebas nyawa mereka. Li Wei, pria yang dicintainya, adalah arsitek dari kehancurannya. "Aku mencintaimu, Lan," Li Wei mendongak, matanya memohon. "Aku selalu mencintaimu." Lan tersenyum sinis. "Cinta? Cinta macam apa yang mengkhianati, yang membunuh? Cintamu menuntut darah, Li Wei. Dan darah itu akan dibayar." Ia mendekat, menatap dalam mata Li Wei. Di sana, ia melihat ketakutan, penyesalan, dan mungkin...sedikit cinta yang tersisa. Lalu, dengan gerakan secepat kilat, ia mencabut tusuk konde dari rambutnya. Li Wei memejamkan mata, pasrah. Ia tahu, ia pantas menerima ini. Ia tahu, *Keadilan Langit* tak akan tinggal diam. Ia merasakan tusukan di dadanya, rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lan menarik tusuk konde itu, menatap darah yang menetes di tangannya. Ia tidak merasa menang. Ia hanya merasa kosong. Li Wei jatuh berlutut, meraih tangan Lan. "Aku...aku…" Kalimatnya terputus. Napasnya tersengal. Lan melepaskan genggamannya. Ia berbalik, meninggalkan Li Wei yang terkapar di tengah hujan. Ia tidak menyeka air matanya. Ia tidak merasa sedih. Ia hanya merasakan beban yang terangkat dari hatinya. Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat. Pengawal Li Wei menemukan jasad kaisar mereka. Mereka bersumpah akan membalas dendam pada Lan. Tapi, Lan sudah menghilang, ditelan kabut malam. Yang tertinggal hanyalah mayat kaisar, paviliun yang basah kuyup, dan wangi melati yang memudar. *Dan takdir*, yang diam-diam menuntut keadilan, telah menyelesaikan urusannya. *Mungkinkah cinta yang membalas dendam, atau dendam yang mencintai?*
You Might Also Like: Top Cinta Yang Mati Dalam Senyummu

0 Comments: