Baiklah, ini dia kisah pendek ala dracin yang kamu minta: **Cinta yang Tumbuh dari Pengkhianatan** Lantai dansa berputar, memantulkan ribuan bintang dari lampu kristal. Gaun sutra merahku menari mengikuti irama waltz, seolah menyembunyikan badai di dalam hatiku. Senyumku adalah topeng, polesan sempurna di atas **RETRAK** yang menganga lebar. Dulu, senyum ini miliknya. Dulu, tawa ini beresonansi karena kehadirannya. Dulu, ada **JANJI** yang terukir di setiap sentuhan, setiap tatapan. Sekarang? Tatapan itu kini terarah pada wanita lain, tangannya memeluk pinggang yang bukan lagi milikku. Dia, Li Wei, sang pewaris Grup Zhao yang terpandang. Aku, Mei Lan, si yatim piatu yang beruntung memenangkan hatinya. Atau begitulah *yang kukira*. Pelukannya dulu terasa seperti surga, kini bagaikan *racun* yang perlahan melumpuhkan. Bisikannya dulu terdengar seperti melodi, kini bagaikan *belati* yang menusuk tanpa ampun. Janji-janjinya? Hilang, menguap bersama malam-malam yang kini terasa dingin dan hampa. Aku menari, mengabaikan perih yang menjalar di setiap urat nadi. Aku **MENOLAK** untuk menangis, **MENOLAK** untuk membiarkan harga diriku jatuh bersama air mata. Aku akan membalas dendam, bukan dengan darah, tapi dengan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: *penyesalan*. Beberapa bulan kemudian, Grup Zhao di ambang kehancuran. Investasi yang gagal, kontrak yang dibatalkan, reputasi yang tercoreng. Sebuah permainan catur yang rumit, diatur dengan elegan dan dingin. Dalang di baliknya? Tentu saja, si yatim piatu yang dulu dianggap remeh. Aku menatapnya dari kejauhan, matanya memancarkan keputusasaan yang dalam. Dia mencoba mendekatiku, memohon ampun. Aku hanya tersenyum, senyum yang kini terasa asing, *kejam*. "Kau...kau tahu?" bisiknya, suaranya serak. Aku mendekat, berbisik di telinganya, "Aku tahu segalanya, Li Wei. Semua tentang kelemahanmu, semua tentang ambisimu, dan semua tentang *kebodohanmu* karena telah mengkhianatiku." Aku berbalik, meninggalkannya dalam jurang penyesalan yang tak berujung. Kesuksesan kini ada di tanganku, dan aku telah memastikan bahwa dia akan selamanya menjadi bayangan masa lalu. Saat langkahku menjauh, aku menyadari sesuatu yang mengerikan: kebahagiaan ini terasa hambar. Kemenangan ini terasa pahit. Cinta dan dendam... lahir dari tempat yang sama.
You Might Also Like: Dechutheju Sibilings Gallery Of Images

0 Comments: