**Genta Senja** Hujan menggigil membasahi paviliun tua itu, serupa dengan hatiku setiap kali mengingatmu. Lima tahun. Lima tahun sejak pengk...

Cerpen Terbaru: Aku Mencintaimu Tanpa Harapan, Tapi Dengan Seluruh Keberanian Cerpen Terbaru: Aku Mencintaimu Tanpa Harapan, Tapi Dengan Seluruh Keberanian

Cerpen Terbaru: Aku Mencintaimu Tanpa Harapan, Tapi Dengan Seluruh Keberanian

Cerpen Terbaru: Aku Mencintaimu Tanpa Harapan, Tapi Dengan Seluruh Keberanian

**Genta Senja** Hujan menggigil membasahi paviliun tua itu, serupa dengan hatiku setiap kali mengingatmu. Lima tahun. Lima tahun sejak pengkhianatan itu membekukan senyumku, mewarnai duniaku dengan kelabu. Lima tahun sejak kau menikahi **DIA**. Dulu, kita tertawa di bawah pohon sakura yang bermekaran. Kau memberiku janji abadi, merangkai masa depan yang penuh warna di mataku. Janji itu kini hanyalah bayangan yang patah, terhanyut dalam derasnya penyesalan. Aku mengamati dari kejauhan. Kau, dengan bahumu yang tegap, menggandengnya menuju altar. Cahaya lentera yang nyaris padam di jalan setapak seperti melambangkan cintaku padamu – redup, namun belum sepenuhnya mati. *Bodoh*. Aku, yang mencintaimu tanpa harapan, tapi dengan seluruh keberanian, memilih untuk diam. Aku menelan pahitnya kenyataan, mengubur dalam-dalam luka yang kau torehkan. Setiap ucapan selamat yang kuberikan padamu terasa seperti belati yang menusuk jantungku. Kau bahagia? Aku tidak tahu. Yang kutahu, senyummu tidak lagi memancar seperti dulu. Ada bayangan di matamu, seolah kau juga membawa beban masa lalu yang belum selesai. Apakah kau menyesal? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Waktu terus berjalan. Aku membangun kembali hidupku, sedikit demi sedikit. Aku belajar untuk memaafkan, meski tidak pernah bisa melupakan. Aku sibuk dengan pekerjaanku, mengasah kemampuanku, menajamkan pikiranku. Aku menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih berani, lebih... *berbahaya*. Suatu malam, aku bertemu denganmu di sebuah pesta amal. Kau tampak terkejut, mungkin tidak menyangka akan melihatku di sana. Mata kita bertemu. Ada kerinduan, ada penyesalan, ada... *ketakutan*? "Lama tidak bertemu," sapamu canggung. Aku tersenyum tipis. "Ya, lama sekali." Percakapan kita mengalir datar, dipenuhi basa-basi yang hambar. Namun, di balik senyumanku, aku menyembunyikan rencana yang telah kupersiapkan dengan matang selama bertahun-tahun. Kau bertanya tentang kabarku. Aku menjawab seadanya. Kau menanyakan tentang pekerjaanku. Aku menjawab dengan bangga. Kau bahkan sempat menyinggung tentang pernikahanmu. Aku hanya tersenyum getir. "Kau tahu, aku selalu bertanya-tanya... kenapa kau tidak pernah membalas surat-suratku dulu?" tanyamu tiba-tiba, memecah kebekuan. Aku terdiam sesaat. "Karena... *aku tidak pernah menerimanya*."
You Might Also Like: Unleash Your Legendary Clash Conquer

0 Comments: