Baik, ini dia cerita pendek bergaya dracin dengan sentuhan lirih, penyesalan, dan misteri, dalam Bahasa Indonesia: **Aku Menulis Janji di Udara, Tapi Angin Membawanya ke Surga** Suara *guqin* melantun lirih di malam yang sunyi. Setiap nadanya bagai tetesan air mata yang jatuh perlahan, mencerminkan hatiku yang retak. Dulu, di bawah rembulan yang sama, aku menulis janji di udara, menggantungkannya pada setiap hembusan angin. Janji tentang cinta abadi, kesetiaan tak terbatas, dan masa depan yang gemilang bersamamu, *Zhang Wei*. Namun, angin rupanya berkhianat. Ia tidak membawanya ke hatimu, melainkan menerbangkannya jauh ke surga, tempat janji-janji yang diingkari bersemayam. Aku melihatmu. Bersama *wanita itu*. Senyummu yang dulu hanya untukku, kini kau hadiahkan padanya. Sentuhanmu yang dulu membuatku berdebar, kini menghangatkan tangannya. Aku *diam*. Bukan karena lemah, bukan karena tak berdaya. Diamku adalah perisai. Perisai yang melindungi sebuah **RAHASIA**. Rahasia yang akan menghancurkan segalanya jika terungkap. Rahasia yang terukir dalam hatiku, sedalam sungai yang mengalir di bawah istana. Kau bertanya mengapa aku tidak marah? Mengapa aku tidak menuntut penjelasan? Kau pikir aku menerima ini semua dengan pasrah? Kau SALAH. Ada kekuatan yang lebih besar dari amarah. Ada balas dendam yang lebih menyakitkan dari pedang yang menancap di jantung. Aku hanya menunggu. Menunggu saat yang tepat, saat takdir berbalik arah. Dulu, kau adalah segalanya bagiku. Sekarang, kau hanya bagian dari permainan yang baru saja dimulai. Misteri perlahan menguat. Mulai dari *surat kaligrafi* tanpa nama yang kau terima setiap pagi, hingga bunga *plum* putih yang tiba-tiba menghiasi meja kerjamu. Kau merasa diawasi. Merasa terancam. Kau mulai bertanya-tanya. Mungkinkah... Kemudian, *kejadian itu* terjadi. Investasi besarmu gagal total. Kariermu hancur berantakan. Semua orang menjauhimu. Di saat terpuruk, kau datang padaku. Memohon ampun. Memohon kesempatan kedua. Aku tersenyum. Senyum yang tidak lagi mengandung cinta. Hanya ada *kepuasan* yang dingin. "Zhang Wei," bisikku lirih, "Kau ingat janji yang kau tulis di udara bersamaku?" Kau menunduk. Air mata membasahi pipimu. "Angin membawanya ke surga," lanjutku. "Dan di sana, janji-janji yang diingkari berbalik menghantuimu." Rahasia itu terungkap. Aku bukan hanya wanita yang kau tinggalkan. Aku adalah putri dari *musuh bebuyutan* keluargamu. Aku memanfaatkanmu untuk menghancurkan segalanya yang kau miliki. Balas dendamku tidak berdarah. Hanya takdir yang berbalik arah. Pahit. Namun indah. Kau ditinggalkan. Sendirian. Terpuruk. Seperti aku dulu. Kau menatapku dengan tatapan kosong. Lalu berbisik, "Semua ini... karena... *cinta*?" Aku tidak menjawab. Aku berbalik dan melangkah pergi, meninggalkanmu dalam kehancuran. Di kejauhan, aku mendengar suara *guqin* melantunkan melodi yang sama. Hanya saja, kali ini, ada nada kemenangan di dalamnya. Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi. Mungkin, di sana, angin akan membawa janji kita ke tempat yang seharusnya. *** Tapi entahlah, *mungkin* saja aku sudah tidak menginginkannya lagi…
You Might Also Like: Tutorial Sunscreen Mineral Untuk Kulit

0 Comments: