**Cinta yang Menghapus Nama Dewa** Di antara kabut *violet* Lembah Seribu Bunga, di mana mimpi dan kenyataan menari dalam simfoni senyap, ...

FULL DRAMA! Cinta Yang Menghapus Nama Dewa FULL DRAMA! Cinta Yang Menghapus Nama Dewa

FULL DRAMA! Cinta Yang Menghapus Nama Dewa

FULL DRAMA! Cinta Yang Menghapus Nama Dewa

**Cinta yang Menghapus Nama Dewa** Di antara kabut *violet* Lembah Seribu Bunga, di mana mimpi dan kenyataan menari dalam simfoni senyap, aku pertama kali melihatnya. Bukan dalam daging dan darah, namun dalam lukisan *gulungan sutra* yang usianya melampaui zaman. Wajahnya, selembut embun pagi di kelopak lotus, memancarkan kesedihan abadi. Lukisan itu menceritakan kisah Dewa Angin, Xin, yang menolak keabadian demi seorang wanita fana. *Legenda* menyebutnya Lian, seorang penari dengan senyum mentari dan hati yang sehangat madu. Cinta mereka adalah badai di tengah danau tenang, sebuah *pelanggaran tabu* yang mengguncang langit. Setiap malam, di bawah rembulan perak yang merindukan bumi, aku bermimpi tentang Lian. Aku merasakan dinginnya telapak tangannya, mendengar gemericik tawanya yang memecah kesunyian kuil kuno. Aku melihatnya menari di bawah pohon *sakura*, setiap gerakan adalah doa, setiap putaran adalah janji abadi. Namun, semakin dalam aku menyelami mimpi itu, semakin samar garis antara aku dan Lian. Apakah aku hanya penonton setia, ataukah *jiwaku* telah lama terikat dengan kisahnya? Apakah aku melihatnya, ataukah aku *adalah* dirinya? Bertahun-tahun aku mencari jawabannya, menelusuri reruntuhan kuil, mendaki gunung-gunung yang menyimpan *rahasia* kuno. Aku menemukan fragmen puisi, catatan perjalanan yang memudar, dan bisikan-bisikan angin yang menyebut namanya: Lian. Suatu senja, di tepi Sungai Lupa, aku menemukan sebuah cermin. Bukan cermin biasa, melainkan artefak yang mampu memantulkan masa lalu. Saat aku menatap bayanganku sendiri, aku melihat... bukan diriku. Aku melihat Lian. *Di matanya* — mataku — terpancar kesedihan yang tak terhingga, kenangan akan cinta yang hilang, dan kerinduan abadi akan Dewa Angin. Aku adalah reinkarnasinya. Aku adalah eho dari cintanya yang *terlarang*. Saat itulah aku mengerti. Xin tidak hanya mencintai Lian, dia mengorbankan *KEABADIANNYA* untuknya. Dia menghapus namanya dari catatan para dewa, meninggalkan tahtanya di surga, dan mengutuk dirinya untuk *terus* mencintainya, dalam setiap kehidupan, dalam setiap mimpi. Tapi keindahan pengorbanan itu justru membuat luka makin dalam. Karena dengan setiap reinkarnasi, ingatan tentang Xin semakin pudar, digantikan oleh kesadaran bahwa cinta sejati hanyalah *bayangan* dari masa lalu yang terlupakan. Dan kemudian, suara itu berbisik di telingaku, dari kedalaman abad, "Apakah kau ingat… janji kita, Lian?"
You Might Also Like: 18 Convert Unit Timestamps To Dates In

0 Comments: